Nutanix: Industri Keuangan Masih Tertatih Perluas Implementasi AI

Oleh : Hariyanto | Rabu, 24 Juni 2026 - 09:47 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di industri jasa keuangan terus melaju. Namun, kemampuan lembaga keuangan untuk memperluas implementasi teknologi tersebut masih terkendala persoalan tata kelola, infrastruktur, hingga kesiapan operasional.

Hal itu terungkap dalam laporan Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) 2026 yang dirilis Nutanix, perusahaan penyedia solusi komputasi hybrid multicloud. Studi tersebut menunjukkan bahwa meski perusahaan jasa keuangan berlomba memanfaatkan AI, banyak organisasi belum siap mengelola teknologi tersebut secara aman dan sesuai regulasi.

Laporan tersebut menemukan fenomena penggunaan AI tanpa izin resmi atau shadow AI semakin marak. Sebanyak 66% eksekutif TI mengaku karyawan di perusahaannya menggunakan AI yang tidak disetujui secara resmi. Bahkan, 86% responden menilai praktik tersebut berpotensi menimbulkan risiko bagi bisnis.

Selain itu, hambatan terbesar dalam meningkatkan skala penerapan AI justru berasal dari aspek tata kelola dan organisasi. Sebanyak 38% responden menyebut kompleksitas proses sebagai tantangan utama, disusul persoalan kepemimpinan dan keterampilan sumber daya manusia sebesar 34%. Adapun keterbatasan teknis hanya menyumbang 28%.

Persoalan lain yang mulai menjadi perhatian adalah kedaulatan data. Sebanyak 79% organisasi menempatkan isu tersebut sebagai prioritas, tetapi 62% masih menjalankan beban kerja berbasis kontainer di public cloud. Kondisi ini memunculkan akumulasi risiko yang disebut sebagai "sovereignty debt".

Di sisi lain, tren kontainerisasi terus meningkat seiring perkembangan AI. Sebanyak 90% responden menyatakan AI mendorong percepatan adopsi kontainer, sedangkan 89% memperkirakan tren tersebut akan terus berlanjut.

Temuan tersebut menandai titik balik bagi industri jasa keuangan yang kini menghadapi tekanan regulasi dan operasional yang semakin besar. Sebanyak 68% responden mengakui infrastruktur mereka belum sepenuhnya siap mendukung beban kerja AI secara on-premises. Akibatnya, hampir dua pertiga atau 64% organisasi memilih mengandalkan penyedia pihak ketiga untuk menutup kesenjangan tersebut.

Vice President APJ Nutanix, Jay Tuseth, mengatakan persaingan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ) kini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki model AI paling canggih, melainkan siapa yang mampu mengoperasikannya dalam skala besar secara aman dan bertanggung jawab.

"Di seluruh wilayah APJ, persaingan kini bukan lagi sekadar tentang siapa yang memiliki model AI paling canggih, melainkan tentang siapa yang mampu meningkatkan skala penerapannya secara aman dan bertanggung jawab. Di saat lembaga keuangan menghadapi peningkatan risiko yang semakin besar terkait kedaulatan data dan penggunaan AI yang tidak diizinkan resmi, keberhasilan menuntut peralihan ke arah platform berbasis kontainer yang fleksibel," ujar Jay Tuseth.

Ia menambahkan, perusahaan yang unggul bukanlah yang memiliki anggaran komputasi terbesar, melainkan mereka yang mampu menyelaraskan infrastruktur dengan tuntutan regulasi regional dan kebutuhan kedaulatan data.

"Para pemenang dalam kompetisi ini bukanlah mereka yang sekadar memiliki anggaran komputasi terbesar, melainkan mereka yang berhasil menyelaraskan infrastrukturnya dengan tuntutan regulasi regional dan kedaulatan data," katanya.

Survei Financial Sector Enterprise Cloud Index 2026 dilakukan oleh Wakefield Research pada November 2025 terhadap 1.600 eksekutif bidang cloud, TI, dan engineering dengan jabatan minimal manajer. Para responden berasal dari organisasi dengan lebih dari 500 karyawan di sejumlah negara, termasuk Australia, Jepang, Singapura, India, Inggris, dan Amerika Serikat.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →