Perluas Akses Kredit, Easycash Fokus Garap Segmen Unbanked dan Underbanked

Oleh : Hariyanto | Senin, 22 Juni 2026 - 12:29 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Akses terhadap layanan keuangan di Indonesia masih menghadapi tantangan serius, terutama bagi kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya terhubung dengan sistem keuangan formal. Kondisi ini memperlihatkan masih besarnya ruang untuk memperluas inklusi keuangan guna mendukung aktivitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan pendanaan.

Merujuk pada White Paper yang disusun Asosiasi Fintech Indonesia bersama Mandala Consulting berjudul “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar”, akses terhadap layanan keuangan formal masih menjadi tantangan signifikan. Data World Bank menunjukkan sekitar 48 persen penduduk dewasa Indonesia masih berada dalam kategori underbanked.

Sementara itu, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan mencatat tingkat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025, yang berarti masih ada sekitar 30 persen masyarakat dewasa yang belum terlayani secara optimal oleh layanan keuangan formal atau masuk kategori financially excluded.

Di tengah kondisi tersebut, Direktur Utama PT Indonesia Fintopia Technology, Nucky Poedjiardjo, menegaskan bahwa perluasan akses keuangan yang inklusif menjadi salah satu fokus utama perusahaan. Ia menilai kehadiran layanan keuangan digital, termasuk pinjaman daring (pindar) melalui Easycash, dapat menjadi solusi untuk menjembatani kesenjangan akses kredit sekaligus mendukung percepatan inklusi keuangan nasional.

“Di tengah masih besarnya kebutuhan akses kredit, perluasan akses pendanaan harus berjalan beriringan dengan penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Oleh karena itu, Easycash berkomitmen untuk terus memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko, dan perlindungan konsumen sebagai fondasi dalam menghadirkan akses pendanaan yang luas bagi masyarakat,” kata Nucky dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Sejalan dengan komitmen tersebut, kinerja penyaluran pendanaan Easycash juga terus menunjukkan pertumbuhan. Sejak berdiri pada 2017, platform pinjaman daring berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan ini telah menyalurkan pendanaan kepada lebih dari 10 juta penerima dana (borrower) dengan total akumulasi mencapai Rp96,67 triliun.

Salah satu dampak nyata dari akses pendanaan ini dirasakan oleh Ifa Maria Ulfa, petani asal Jember, yang memanfaatkan pinjaman untuk kebutuhan modal usaha tani, khususnya pembelian pupuk untuk tanaman cabai dan padi saat mengalami keterbatasan dana.

“Dana yang saya dapatkan sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan pembelian pupuk saat modal sedang terbatas. Proses pencairannya cepat sehingga saya bisa tetap menjalankan usaha tani tanpa harus menunda kebutuhan produksi,” ujar Ifa.

Ia menambahkan bahwa akses pendanaan tersebut membantu menjaga keberlangsungan usaha tani yang menjadi sumber penghidupan keluarganya, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pinjaman informal saat menghadapi kebutuhan mendesak.

Di sisi lain, Easycash juga memperkuat fondasi tata kelola perusahaan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan berkelanjutan. Penguatan tersebut dilakukan melalui peningkatan fungsi pengawasan, manajemen risiko, pengendalian internal, kepatuhan, hingga audit internal dan eksternal, sejalan dengan implementasi POJK No. 40 Tahun 2024.

“Penerapan tata kelola yang baik tidak hanya bertujuan untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga untuk membangun perusahaan yang sehat, dapat diandalkan dalam memperluas akses kredit masyarakat, serta mampu memberikan perlindungan bagi konsumen. Kami meyakini bahwa tata kelola yang kuat akan memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan, sekaligus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan,” tutup Nucky.

Ke depan, Easycash berkomitmen untuk terus memperluas akses pendanaan, khususnya bagi segmen unbanked dan underbanked, sekaligus meningkatkan literasi keuangan masyarakat melalui program edukasi seperti MOJANG (Modul Bijak Keuangan) dan platform edukasi ChatPindar, agar masyarakat semakin bijak dalam memanfaatkan layanan keuangan digital.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →