ITMG Optimistis di 2Q26, Namun Risiko RKAB dan Bea Ekspor Belum Reda

Oleh : Candra Mata | Selasa, 19 Mei 2026 - 07:29 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Manajemen Indo Tambangraya Megah (ITMG) dalam earnings call Senin (18/5) menyampaikan optimisme terhadap kinerja operasional 2Q26, ditopang oleh perbaikan cuaca dan penguatan harga batu bara global. Namun demikian, ketidakpastian regulasi domestik masih menjadi faktor yang membayangi prospek perseroan ke depan.

Guidance Operasional 2Q26: Volume dan Produksi Diproyeksi Meningkat

ITMG memperkirakan volume penjualan batu bara pada 2Q26 mencapai 6,5 juta ton, naik sekitar 3% secara kuartalan dan 12% secara tahunan. Dengan demikian, total penjualan selama 1H26 diperkirakan mencapai 12,8 juta ton atau tumbuh 9% YoY.

Komposisi kontrak penjualan saat ini terdiri atas 64% fixed price, 35% indexed pricing, dan sekitar 1% masih belum terjual (unsold).

Dari sisi produksi, perseroan menargetkan output batu bara sebesar 5,4 juta ton pada 2Q26, meningkat 15% QoQ dan 6% YoY, seiring ekspektasi kondisi cuaca yang lebih kondusif dibanding kuartal sebelumnya.

Sementara itu, stripping ratio diperkirakan tetap tinggi di level 10,4x — relatif stabil dibanding 1Q26 namun lebih tinggi dibanding 2Q25 sebesar 9,7x. Manajemen menjelaskan langkah tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan mining sequence di tengah tren kenaikan harga batu bara.

Sebagai catatan, hingga 15 Mei 2026, indeks Newcastle dan ICI-3 masing-masing telah menguat sekitar 14% dan 10% secara quarter-to-date.

Tekanan Biaya Energi Direspons dengan Efisiensi

Manajemen mengungkapkan bahwa biaya bahan bakar saat ini berkontribusi sekitar 15–17% terhadap total biaya produksi. Kenaikan harga bahan bakar pada level saat ini diperkirakan menambah cash cost sekitar US$3 per ton.

Untuk menjaga profitabilitas, ITMG berupaya melakukan pengendalian biaya melalui efisiensi overhead, khususnya pada biaya profesional dan pengeluaran non-esensial. Selain itu, perseroan juga mengevaluasi ulang mining sequence, termasuk optimalisasi jarak overburden dumping.

RKAB, DMO, dan Bea Ekspor Masih Jadi Risiko Utama

Di sisi regulasi, manajemen menyebut perseroan tetap menjaga level persediaan batu bara yang memadai guna mengantisipasi potensi revisi naik kuota produksi RKAB pada pertengahan tahun.

Sementara itu, kebijakan domestic market obligation (DMO) dinilai masih sangat bergantung pada persetujuan RKAB, meski porsinya diperkirakan berada di kisaran 25–30% sebagaimana ramai diberitakan sebelumnya.

Kami (-red) mempertahankan pandangan bahwa ketidakpastian kebijakan — mulai dari RKAB, DMO, hingga potensi bea ekspor — masih menjadi tantangan utama bagi ITMG dalam jangka menengah.

Meski demikian, berdasarkan guidance operasional 2Q26, kami (-red) memperkirakan perseroan berpotensi mencatatkan pertumbuhan pendapatan serta perbaikan margin laba kotor secara kuartalan, dengan asumsi biaya energi dan bauran penjualan domestik-ekspor tetap berada di level 1Q26.

Candra Mata

Redaksi

Candra Mata adalah seorang jurnalis dan wartawan di media cetak dan portal berita online nasional bernama Industry.co.id, tercatat aktif sebagai salah satu tim redaksi dan jurnalis yang mengulas berbagai perkembangan sektor industri di Indonesia.Fokus Liputan: Artikel berita yang ditulisnya banyak berfokus pada kebijakan ekonomi, aktivitas ekspor-impor, program investasi nasional, perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), hingga inovasi Industri Kecil Menengah (IKM)

Lihat semua artikel →