Ekspor Perdana Urea ke Australia Buka Peluang Pasar Baru Pupuk Indonesia

Oleh : Hariyanto | Senin, 18 Mei 2026 - 09:36 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - BONTANG — PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur resmi memulai ekspor perdana pupuk urea ke Australia dalam skema government-to-government (G2G). Langkah ini dinilai menjadi tonggak baru bagi industri pupuk nasional di tengah meningkatnya kebutuhan penguatan rantai pasok pangan kawasan Asia-Pasifik.

Ekspor perdana tersebut ditandai dengan pelepasan kapal pengangkut urea di Dermaga BSL Pupuk Kaltim, Bontang, Kamis (14/5/2026). Pengiriman tahap awal mencapai 47.250 ton dan merupakan bagian dari komitmen kerja sama ekspor sebesar 250.000 ton yang ditargetkan meningkat hingga 500.000 ton dengan potensi nilai mencapai sekitar Rp7 triliun.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai ekspor ini menjadi sejarah baru bagi transformasi industri pupuk nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok strategis di kawasan.

“Ini mencetak sejarah, karena (kita) akan mengekspor pupuk ke beberapa negara termasuk Australia. Rencana kita mengekspor ke Australia sesuai dengan pembicaraan Perdana Menteri Australia dan Bapak Presiden yaitu 250.000 ton, tapi akan ditingkatkan menjadi 500.000 ton, nilainya kurang lebih Rp7 triliun,” ujar Amran.

Pengiriman urea ke Australia merupakan tindak lanjut komunikasi bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Anthony Albanese. Pemerintah menegaskan kebijakan ekspor dilakukan secara terukur tanpa mengganggu pemenuhan kebutuhan pupuk domestik.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan ekspor ini memiliki makna strategis yang lebih luas dibanding sekadar transaksi dagang. Menurut dia, Indonesia kini mulai mengambil peran sebagai bagian dari solusi atas tekanan rantai pasok pangan dan pupuk global.

“Pengiriman urea ke Australia hari ini bukan sekadar aktivitas perdagangan, tetapi juga bagian dari diplomasi pangan Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan kawasan Asia-Pasifik,” kata Rahmad.

Ia memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Tahun ini, Pupuk Indonesia menargetkan produksi urea mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik diperkirakan sekitar 6,3 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus produksi sekitar 1,5 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk pasar ekspor.

“Pupuk Indonesia tetap mampu menjaga kebutuhan domestik sekaligus mempertahankan fleksibilitas ekspor secara terukur dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Dari sisi Australia, Deputy Ambassador Australia untuk Indonesia Gita Kamath menyampaikan apresiasi atas dimulainya kerja sama pengiriman urea dari Indonesia. Menurut dia, kolaborasi ini mempertegas hubungan strategis kedua negara.

“Atas nama Pemerintah Australia dan Duta Besar Australia, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya. Australia sangat menghargai hubungan dengan Indonesia dan kerja sama ini mencerminkan persahabatan serta kemitraan yang kuat antara Australia dan Indonesia,” kata Gita.

Di tengah ekspansi pasar ekspor, Pupuk Indonesia juga menegaskan kondisi stok pupuk nasional masih dalam level aman. Hingga 13 Mei 2026, stok pupuk tercatat mencapai 1,1 juta ton dengan dukungan kapasitas produksi harian sebesar 25 ribu ton urea dan 15 ribu ton pupuk NPK.

Perseroan juga mengandalkan Command Center dan sistem i-Pubers untuk memantau distribusi pupuk secara real-time hingga tingkat kios. Sistem digital tersebut memungkinkan realokasi stok dilakukan lebih cepat ketika terjadi lonjakan kebutuhan di suatu wilayah.

Optimalisasi distribusi itu turut mendorong realisasi penyaluran pupuk subsidi yang hingga pertengahan Mei 2026 telah mencapai 3,5 juta ton atau sekitar 36% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Lewat Command Center dan sistem i-Pubers, kami bisa memantau pergerakan stok pupuk secara real-time hingga tingkat kios. Dengan sistem ini, penyesuaian distribusi dapat dilakukan lebih cepat ketika terdapat wilayah dengan kebutuhan pupuk yang meningkat,” ujar Rahmad.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →