Urgensi Inklusivitas dan Layanan Primer dalam Menghadapi Dampak Kesehatan Akibat Perubahan Iklim

Oleh : Hariyanto | Kamis, 30 April 2026 - 12:31 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Perubahan iklim dan degradasi lingkungan kini telah memberikan dampak nyata terhadap sektor kesehatan global, tidak terkecuali di Indonesia. Identifikasi risiko serta perancangan strategi adaptasi perlu dilakukan secara inklusif dengan melibatkan kelompok rentan sebagai subjek utama dalam setiap kebijakan.

Dalam konteks ini, peningkatan layanan kesehatan primer memiliki peran strategis sebagai garda terdepan yang diharapkan mampu beradaptasi, mengantisipasi, sekaligus pulih dari berbagai risiko kesehatan yang dipicu oleh krisis iklim.

Pembahasan krusial ini menjadi bagian dari proyek riset kolaboratif KONEKSI, sebuah platform kemitraan pengetahuan Australia–Indonesia, yang dipaparkan dalam acara puncak KIE Jakarta Summit bertajuk “Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap Kesehatan”.

​Penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Universitas Udayana bekerja sama dengan Australian National University menyoroti bagaimana sistem kesehatan, khususnya layanan primer seperti Puskesmas, beradaptasi dengan perubahan iklim.

Mengingat kedudukannya sebagai perpanjangan tangan dari sistem kesehatan nasional, tenaga kesehatan di level primer merupakan pihak yang paling dekat dengan masyarakat terdampak. Namun, tantangan besar masih membayangi implementasi di lapangan akibat keterbatasan kerangka kerja yang komprehensif.

​Peneliti utama dari Australian National University, Dr. I Nyoman Sutarsa, menyampaikan bahwa meskipun kesadaran sudah terbentuk, langkah nyata masih terbatas pada upaya pencegahan dasar.

“Sebetulnya, tenaga kesehatan sudah sadar dengan permasalahan iklim dan memiliki keinginan untuk melakukan adaptasi perubahan iklim, hanya saja kalau kita lihat secara keseluruhan upaya adaptasi yang dilakukan tenaga kesehatan masih preventif. Ini mungkin karena belum adanya kerangka yang komprehensif di level dinas kesehatan dan layanan primer, bagaimana puskesmas seharusnya merespons perubahan iklim,” ungkap Sutarsa.

​Sejalan dengan hal tersebut, Dr. Anak Agung Sagung Sawitri menambahkan bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim sejatinya tidak selalu menuntut pembentukan program baru yang rumit. Sebaliknya, upaya ini dapat diwujudkan dengan mengoptimalkan komponen sistem kesehatan yang sudah ada melalui pendekatan climate lens.

Pendekatan ini mendorong transformasi surveillance menjadi lebih terintegrasi antara aspek lingkungan dan penyebaran penyakit tanpa mengubah struktur program, melainkan menyempurnakan kualitas pelaksanaannya di lapangan.

​Di sisi lain, perempuan dan anak-anak teridentifikasi sebagai kelompok yang paling rentan menghadapi krisis iklim, mulai dari meningkatnya risiko penyakit hingga minimnya akses informasi dan sistem dukungan. Riset kolaborasi antara Universitas Indonesia, Monash University, dan the University of Melbourne menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan sebagai garda terdepan.

Peneliti utama Universitas Indonesia, Dr. Ns. Suryane Sulistiana Susanti, mengingatkan bahwa fenomena ini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan sudah menjadi darurat kesehatan dengan pola bencana yang berbeda-beda di tiap daerah.

​Dr. Ns. Suryane menjelaskan lebih lanjut mengenai perbedaan tantangan geografis yang dihadapi masyarakat. “Penelitian kami menemukan bahwa wilayah seperti Marunda dan Pekalongan kerap menghadapi banjir, sementara daerah di Indonesia timur lebih rentan terhadap kekeringan. Setiap wilayah membawa tantangan kesehatan yang berbeda, dan dampaknya sangat nyata, terutama bagi kelompok rentan,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan bahwa meski perempuan memegang peran sentral dalam menjaga kesehatan keluarga, mereka justru sering menjadi kelompok terakhir yang mendapatkan kesempatan dan akses terhadap layanan kesehatan.

​Menanggapi berbagai temuan riset tersebut, Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Anas Ma’ruf, menekankan bahwa ketahanan sektor kesehatan memerlukan dukungan kolaboratif dari berbagai sektor.

Menurutnya, selama ini sektor kesehatan kerap hanya diposisikan pada aspek adaptasi, padahal sektor ini juga memiliki peran vital dalam mitigasi. “Karena itu, penguatan sistem kesehatan, mulai dari fasilitas layanan hingga intervensi di tingkat desa menjadi kunci untuk menghadapi dampak perubahan iklim secara berkelanjutan,” tegas dr. Anas.

​Sesi diskusi ini juga diperkaya oleh perspektif dr. Samuel J. Olam, praktisi kesehatan masyarakat dan Health & Wellbeing Partner AMAN Solution, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Sinergi ini diperlukan agar peningkatan aksesibilitas dalam perawatan kesehatan dapat diimplementasikan secara merata dan tepat sasaran, sehingga perlindungan terhadap kelompok rentan tidak lagi sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang inklusif.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →