Gen Z dan Milenial Makin Digital, 90% Simpan Data Sensitif Secara Elektronik

Oleh : Hariyanto | Rabu, 08 April 2026 - 10:54 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Penelitian terbaru Kaspersky menunjukkan pergeseran kuat perilaku masyarakat dalam menyimpan data pribadi, dengan generasi Z dan milenial menjadi kelompok yang paling mengandalkan format digital. Survei tersebut menemukan bahwa hampir seluruh responden usia muda menyimpan informasi sensitif secara elektronik, mulai dari identitas diri hingga data keuangan dan arsip foto.

Berdasarkan riset yang dilakukan pusat riset pasar Kaspersky pada November 2025, sebanyak 84% responden secara umum menyatakan menyimpan data pribadi sensitif seperti KTP, detail keuangan, informasi kesehatan, hingga arsip foto dalam format elektronik. Angka ini bahkan melonjak menjadi 90% pada kelompok usia 18–34 tahun, yang mencerminkan tingginya tingkat digitalisasi data pribadi di kalangan generasi muda.

Sebaliknya, kebiasaan menyimpan data dalam bentuk fisik masih cukup kuat pada kelompok usia yang lebih tua. Hanya 16% responden secara umum yang mengandalkan salinan fisik semata, namun pada responden berusia di atas 55 tahun, proporsinya mendekati 30%.

Dalam hal media penyimpanan digital, lebih dari separuh responden global atau 56% memilih komputer maupun perangkat keras seperti hard drive. Sementara itu, 45% memanfaatkan layanan cloud, dan 20% mempercayakan data mereka kepada layanan digital pemerintah.

Khusus di Indonesia, tren penyimpanan digital tercatat lebih tinggi. Sebanyak 61% responden menyimpan data penting di komputer atau perangkat keras, dan persentase yang sama, yakni 61%, menggunakan solusi cloud. Adapun 14% lainnya memanfaatkan layanan digital pemerintah.

Meski penyimpanan digital dinilai lebih praktis, Kaspersky mengingatkan bahwa hal tersebut tidak otomatis berarti lebih aman. Setiap metode penyimpanan memiliki risiko masing-masing, mulai dari media fisik yang bisa hilang atau rusak hingga layanan cloud yang berpotensi mengalami akses tidak sah.

Untuk itu, perusahaan keamanan siber tersebut menekankan pentingnya strategi perlindungan data yang lebih terstruktur, termasuk penerapan metode pencadangan 3-2-1, yakni memiliki setidaknya tiga salinan data penting, menyimpannya di dua jenis media berbeda, serta memastikan satu salinan berada di luar lokasi, seperti cloud atau perangkat eksternal.

Wakil Presiden untuk Bisnis Konsumen Kaspersky, Marina Titova, mengatakan kebanyakan orang memahami pentingnya pencadangan, namun sering kali gagal melakukannya karena proses yang dianggap rumit.

“Kita semua tahu bahwa pencadangan itu penting, tetapi sebagian besar dari kita tidak pernah melakukannya karena kita mencoba mencadangkan semuanya sekaligus dan itu menjadi sangat merepotkan. Pendekatan yang lebih cerdas? Terapkan pencadangan seperti alur kerja lainnya,” ujar Marina Titova.

Ia menambahkan bahwa pengguna perlu memprioritaskan file berdasarkan tingkat kepentingannya agar proses pencadangan menjadi lebih efisien.

“Beri tag pada file Anda – penting, kritikal, prioritas rendah. Otomatiskan pencadangan waktu nyata untuk hal-hal penting, jadwalkan pencadangan mingguan atau bulanan untuk sisanya. Dan untuk data sensitif seperti kata sandi dan ID, gunakan solusi khusus kami dengan brankas rahasia untuk menjaganya tetap aman,” lanjutnya.

Selain pencadangan, Kaspersky juga menyoroti pentingnya perlindungan akses. Meski 98% responden mengaku telah mengambil langkah untuk mengamankan data pribadi mereka, sebanyak 36% masih menggunakan kata sandi yang mudah diingat, yang dinilai rentan terhadap serangan brute force.

Karena itu, perusahaan merekomendasikan penggunaan autentikasi dua faktor (2FA), passkey, serta pengelola kata sandi untuk meningkatkan keamanan data sensitif.

Survei ini melibatkan 3.000 responden dari 15 negara, termasuk Indonesia, dan menegaskan bahwa transformasi digital dalam pengelolaan data pribadi terus meningkat, terutama di kalangan generasi muda. Namun, seiring meningkatnya ketergantungan pada penyimpanan digital, aspek keamanan dinilai menjadi faktor yang semakin krusial.