Lonjakan Harga Minyak Picu Gejolak Pasar Global, Saham Energi RI Bersinar

Oleh : Candra Mata | Selasa, 31 Maret 2026 - 07:27 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Harga minyak dunia kembali menunjukkan lonjakan signifikan di awal pekan. Minyak Brent tercatat naik +3,8% ke level ~US$116,9/barrel pada Senin (30/3) pagi, sebelum akhirnya stabil di kisaran ~US$115,4/barrel pada sore hari. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global, seiring serangan rudal dari militan Houthi ke Israel yang terjadi sejak akhir pekan lalu.

Kelompok Houthi bahkan menegaskan bahwa mereka akan melanjutkan serangan hingga Israel menghentikan agresinya terhadap Iran dan kelompok militan proksinya. Situasi ini memperbesar risiko geopolitik, terutama terhadap jalur distribusi energi global.

Keterlibatan Houthi dalam konflik yang lebih luas berpotensi menghadirkan ancaman baru bagi pasar minyak dunia. 

Bloomberg melaporkan bahwa meskipun Houthi belum secara eksplisit menyatakan akan menargetkan kapal yang melintasi Laut Merah bagian selatan, mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya. Sebagai catatan, pada 2023 lalu, Houthi sempat secara efektif menutup Laut Merah bagi sebagian besar pengiriman barang negara–negara Barat, menyusul konflik Palestina dan Israel.

Tekanan dari sisi geopolitik ini langsung tercermin di pasar keuangan global. Bursa saham Asia kompak melemah pada perdagangan Senin (30/3), dengan Nikkei turun -3,09%, Kospi -2,97%, dan ASX 200 -0,72%. 

Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari bursa saham Amerika Serikat pada Jumat (27/3) sebelumnya, di mana S&P 500 terkoreksi -1,67% ke level terendah dalam 7 bulan dan mencatatkan penurunan selama lima pekan berturut-turut.

Di dalam negeri, IHSG juga tidak luput dari tekanan. Indeks sempat turun hingga -2,14% perdagangan intraday sebelum akhirnya ditutup melemah tipis -0,08%.

Di tengah ketidakpastian global, perkembangan diplomatik turut menjadi sorotan. 

Presiden Donald Trump pada Minggu (29/3) malam waktu setempat menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan pertemuan “secara langsung dan tidak langsung,” serta menyebut para pemimpin baru Iran sebagai pihak yang “sangat masuk akal.” Pernyataan tersebut muncul setelah Pakistan—yang berperan sebagai mediator—menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah pembicaraan damai guna mengakhiri konflik.

Namun demikian, tensi belum sepenuhnya mereda. Iran memperingatkan akan menyerang pasukan AS jika terdapat upaya intervensi militer ke wilayahnya, di tengah laporan meningkatnya kehadiran militer AS di Timur Tengah.

Menariknya, di tengah gejolak tersebut, sektor komoditas justru menunjukkan ketahanan. Secara historis, sektor batu bara dan crude palm oil (CPO) kerap menjadi lindung nilai (hedge) saat harga minyak tinggi. 

Hal ini tercermin pada perdagangan Senin (30/3), di mana saham Adaro Andalan Indonesia ($AADI) dan Indo Tambangraya Megah ($ITMG) masing-masing menguat +8,9% dan +4,3%. Sementara itu, Triputra Agro Persada ($TAPG) dan Dharma Satya Nusantara ($DSNG) juga mencatatkan kenaikan signifikan masing-masing sebesar +7,9% dan +8,1%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan global, peluang tetap terbuka—khususnya pada sektor-sektor yang diuntungkan oleh kenaikan harga energi.