RS Premier Bintaro Tegaskan Gumoh Bayi Umumnya Wajar, GERD Relatif Jarang namun Perlu Kewaspadaan Orang Tua

Oleh : Nina Karlita | Kamis, 05 Februari 2026 - 23:33 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kekhawatiran orang tua saat bayi sering gumoh kerap muncul karena regurgitasi kerap disamakan dengan penyakit. Padahal, secara medis, regurgitasi dan Gastroesophageal Reflux (GER) merupakan proses fisiologis yang lazim terjadi pada bayi, khususnya di enam bulan pertama kehidupan. 

Pemahaman ini menjadi benang merah dalam Media Gathering & Health Talk yang digelar RS Premier Bintaro di Gala Room, Sutasoma Hotel at The Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Mengangkat tema “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan”, kegiatan ini dihadiri jajaran media serta manajemen RS Premier Bintaro, termasuk dr. Relia Sari, MARS selaku Chief Executive Officer (CEO) RS Premier Bintaro. 

Forum ini dirancang untuk meluruskan miskonsepsi seputar gumoh pada bayi sekaligus membedakan kondisi normal dengan gangguan yang perlu penanganan medis.

Dalam sambutannya, dr. Relia menekankan pentingnya literasi kesehatan anak yang bersumber dari bukti ilmiah. Ia menilai peran media krusial untuk membantu menyampaikan informasi yang tepat kepada orang tua agar tidak terjadi kepanikan berlebihan saat bayi mengalami regurgitasi.

Data klinis yang dipaparkan menunjukkan sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan puncak kejadian pada usia 3–4 bulan dan cenderung menurun hingga usia 12 bulan. Kondisi ini kerap disebut happy spitter, yakni bayi tetap aktif, menyusu dengan baik, dan tumbuh normal meski sering gumoh.

Sebaliknya, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan kondisi yang jauh lebih jarang, dengan prevalensi sekitar 3–8 persen. GERD terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan secara berulang atau berkepanjangan hingga memicu peradangan esofagus (esofagitis) dan berpotensi menimbulkan komplikasi seperti gangguan makan, gagal tumbuh, anemia, regurgitasi berdarah, sampai penurunan kualitas hidup anak.

Sebagai narasumber utama, Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, menggarisbawahi tantangan di layanan kesehatan yang sering kesulitan membedakan kondisi fisiologis dengan penyakit.

“Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD jarang. GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, bercak darah pada regurgitasi, nyeri hebat, atau gangguan neurologis. Tanpa tanda alarm, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan,” jelas Prof. Badriul Hegar.

Dalam diskusi juga ditekankan bahwa regurgitasi berlebihan, bayi rewel, atau tangisan berkepanjangan tidak otomatis menandakan GERD. Gejala tersebut bisa saja muncul pada bayi sehat. Karena itu, dokter perlu melakukan evaluasi menyeluruh untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain, termasuk alergi protein susu sapi, sebelum menetapkan diagnosis GERD.

Terkait penanganan, pendekatan awal pada regurgitasi dan GER bersifat non-farmakologis. Langkah-langkah yang dianjurkan meliputi edukasi orang tua, tetap melanjutkan ASI, menghindari overfeeding, mengatur posisi bayi setelah menyusu, serta mempertimbangkan penggunaan susu formula yang ditebalkan bila diperlukan. Pemberian obat bukan terapi lini pertama dan hanya diberikan pada kasus GERD yang sudah terkonfirmasi secara klinis.

Melalui Media Gathering & Health Talk ini, RS Premier Bintaro kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan edukasi kesehatan anak yang komprehensif dan berbasis ilmiah. Kolaborasi dengan media diharapkan dapat memperkuat literasi kesehatan masyarakat, sehingga orang tua lebih tenang, tepat mengambil keputusan, dan sigap mengenali tanda bahaya pada anak.