Ello dan Oki Rengga Puji Ledakan Bakat Seniman Sumut Lewat Strategi Desentralisasi Panggung Kreativitas Nasional

Oleh : Nina Karlita | Rabu, 14 Januari 2026 - 10:36 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Medan - Indonesia tak pernah kekurangan talenta. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada pemerataan panggung. Selama bertahun-tahun, banyak seniman daerah harus berjuang menembus dominasi Jakarta sebagai pusat industri kreatif. 

Namun, awal 2026 membawa angin segar lewat kesuksesan rangkaian nasional “Aice Got You! Panggung Crispymu!” yang singgah di Lapangan Merdeka, Medan.

Acara ini menjadi bukti konkret bahwa desentralisasi panggung kreativitas bukan sekadar wacana. Dari Sumatera Utara (Sumut), yang sejak lama dikenal sebagai rahim seniman Indonesia, muncul ledakan bakat yang kembali menegaskan bahwa kualitas talenta daerah sejajar dengan standar industri nasional.

Sumatera Utara memiliki posisi unik dalam peta budaya Indonesia. Musik dan seni pertunjukan telah menyatu dengan kehidupan masyarakatnya sejak lama. Dari tradisi ber-umpasa dan koor masyarakat Batak Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, hingga Pakpak, sampai kelembutan pantun Melayu pesisir Timur dan vokal energik etnis Nias, seni bukan sekadar hiburan—melainkan ritus sosial. Tak heran jika provinsi ini secara konsisten menyumbang talenta besar bagi industri musik nasional. 

Namun, di balik gemerlap nama besar itu, ribuan seniman muda setiap tahun tumbuh dari komunitas jalanan, gereja, sanggar budaya, hingga sekolah seni di Medan. Sayangnya, hanya sebagian kecil yang mendapat kesempatan tampil di panggung berstandar produksi besar. Di sinilah peran penting program seperti Panggung Crispymu! menjadi sangat relevan.

Berbeda dari ajang pencarian bakat konvensional, Panggung Crispymu! mengusung konsep panggung berjalan—truk ikonik Aice—yang menjelajah dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, hingga Surabaya. Setiap kota menjadi laboratorium ekspresi kreatif, tempat ribuan talenta lokal unjuk gigi di hadapan juri nasional dan publik luas.

Strategi ini menjawab langsung persoalan “Jakarta-sentris” yang selama ini membatasi akses seniman daerah karena faktor jarak dan biaya. Melalui pendekatan jemput bola, Aice menghadirkan standar panggung nasional ke daerah, bukan sebaliknya.

Bagi generasi Z di berbagai kota, pengalaman ini bukan hanya soal tampil, tetapi juga belajar langsung dari para maestro industri, membangun kepercayaan diri, dan memahami bahwa “bintang” bisa lahir dari sudut mana pun di Indonesia.

Salah satu momen paling mencuri perhatian di Medan adalah kemenangan Jacky Raju Sembiring, yang berani memadukan kulcapi dan suling khas Karo dengan balutan Electronic Dance Music (EDM) serta lagu pop global.

“Di ajang ini saya ingin menunjukkan bahwa musik tradisional itu tidak kalah keren. Mengingat Medan kaya akan budaya, saya ingin memperkenalkan alat musik tradisional Karo lebih luas lagi ke masyarakat Indonesia maupun mancanegara,” ujar Jacky.

Eksperimen Jacky menjadi simbol bagaimana tradisi bisa berdialog dengan modernitas. Bukan sekadar inovasi musikal, tetapi juga pernyataan identitas budaya di tengah arus globalisasi.

Selain Jacky, talenta Medan juga diwakili oleh Chessavani dengan vokal matang penuh emosi, kelompok PLAYMAKERZ dengan energi urban lewat koreografi modern dance, hingga Hendro Sutomo, seorang dosen yang menjadi Juara Favorit. Kehadiran Hendro menegaskan bahwa panggung ini inklusif, terbuka bagi siapa pun tanpa batas usia maupun profesi.

Kehadiran juri nasional memberi makna lebih dari sekadar penilaian teknis. Marcello Tahitoe (Ello), misalnya, menyebut energi Medan selalu punya warna berbeda.

“Medan ini selalu beda rasanya. Penampilan 15 peserta di Grand Final luar biasa keren. Setiap peserta yang tampil itu punya karakter yang kuat tersendiri,” ujar Ello.

Senada dengan itu, Anggi Marito, penyanyi nasional asal Sumut, mengaku sulit menentukan pilihan karena standar kualitas yang begitu tinggi. Bagi Anggi, melihat talenta daerah tampil di panggung nasional adalah pengalaman emosional sekaligus membanggakan.

Sementara itu, komika Oki Rengga menilai acara ini sebagai bukti nyata kebanggaan anak Medan. “Saya selaku orang Medan asli merasa bangga. Aku tahu betul kalau anak Medan tampil pasti membanggakan. Kali ini di panggung Aice Got You! Pecah! Ngeri nih panggung,” tuturnya.

Apresiasi dari figur-figur nasional ini menjadi bentuk inkubasi mental bagi para peserta—modal penting untuk melangkah lebih percaya diri ke industri profesional.

Bagi Aice, Medan bukan sekadar kota persinggahan. Sylvana Zhong, Senior Brand Manager Aice Group, menjelaskan bahwa karakter Medan yang berani dan spontan menjadi alasan utama pemilihan kota ini sebagai titik strategis.

“Medan itu kotanya sangat berani. Ketika kami datang energinya terasa hidup, penuh spontanitas dari para warganya. Terlihat juga dari penampilan para peserta yang sangat beragam dan mampu menunjukkan totalitas dengan penuh karakter,” jelas Sylvana.

Tak hanya soal panggung, acara ini juga diramaikan dengan berbagai aktivitas interaktif seperti Human Claw Machine dan DIY Gantungan Kunci, yang menarik ribuan warga memadati Lapangan Merdeka. Semangat boombastic Aice turut diperkuat lewat produk inovatif Aice Crispy Balls Cookies n’ Cream, serta program undian berhadiah mobil dan motor melalui setiap stik es krim.

Namun, di balik semua kemeriahan itu, pesan besarnya tetap satu: membuka akses yang lebih adil bagi talenta daerah.