Metland Optimis Bisnis Perhotelan Makin Sexy Tahun Depan
INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kinerja bisnis perhotelan dinilai masih berada dalam kondisi stabil meskipun pemerintah melakukan pengetatan anggaran, khususnya untuk kegiatan rapat dan pertemuan di hotel.
PT Metropolitan Land Tbk (Metland) mencatat penurunan pendapatan hotel relatif minim dan tidak berdampak signifikan terhadap kinerja group secara keseluruhan.
Direktur PT Metropolitan Land Tbk., Wahyu Sulistio mengatakan, penurunan pendapatan hotel masih berada di bawah satu persen, tepatnya sekitar 0,64 persen, sehingga secara bisnis masih dalam kategori aman.
Hal ini juga ditopang oleh kontribusi sektor hotel yang hanya sekitar 10 persen terhadap total pendapatan grup, sehingga fluktuasi yang terjadi tidak terlalu mempengaruhi kinerja konsolidasi.
“Bisnis sudah mulai kembali normal. Sampai penghujung tahun ini, penurunan pendapatan hotel tidak signifikan dan masih bisa kami kelola,” kata Wahyu di Majalengka, Jawa Barat (13/12).
Kendati diakui kebijakan pengurangan belanja rapat pemerintah berdampak pada sejumlah hotel, ia menilai dampak tersebut tidak merata.
"Beberapa properti memang mengalami tekanan, namun kondisi tersebut berhasil dikompensasi oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), khususnya di Bali," terangnya.
Sepanjang tahun berjalan, jumlah wisman ke Bali tercatat meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Peningkatan ini berdampak langsung terhadap kenaikan okupansi dan pendapatan hotel kami di Bali, sehingga mampu menahan potensi penurunan kinerja secara keseluruhan," ungkap Wahyu.
Sementara itu, penurunan okupansi relatif terbatas terjadi di hotel milik perseroan yang ada di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Namun kondisi berbeda justru terlihat di Hotel Kertajati, yang mencatatkan kenaikan okupansi hingga 20 persen secara tahunan.
Peningkatan tersebut sejalan dengan mulai masuknya investasi baru di kawasan industri di sekitar wilayah tersebut. Sejumlah tenant industri mulai beroperasi dan memberikan kontribusi berupa kebutuhan hunian jangka panjang (long stay) bagi tenaga kerja dan mitra bisnis.
“Ke depan, masih akan ada beberapa tenant tambahan yang masuk dan ini tentu akan menopang tingkat okupansi hotel,” jelas Wahyu.
Selain itu, rencana pengembangan Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) di bandara BIJB Kertajati yang ditargetkan terealisasi pada tahun depan juga dinilai berpotensi mendorong peningkatan okupansi hotel secara signifikan.
Kabar positif lainnya datang dari rencana pengaktifan kembali layanan penerbangan haji dan umrah mulai 4 Januari 2026 yang diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap bisnis dan tingkat hunian hotel di sekitar Bandara Kertajati.
Oleh karena itu, dirinya optimistis terhadap perkembangan kawasan Kertajati ke depan, termasuk rencana penyediaan fasilitas pendidikan vokasional. Perseroan tengah mempersiapkan pengembangan SMK dan politeknik guna mendukung kebutuhan tenaga kerja terampil di kawasan industri yang terus berkembang.
“Kawasan industri membutuhkan skilled worker, sementara pasokan tenaga kerja terampil masih terbatas. Karena itu, kami menyiapkan lahan dan perencanaan untuk sekolah vokasional,” ungkap manajemen.
Dengan berbagai katalis positif tersebut, Wahyu optimistis kinerja sektor perhotelan dan kawasan industri akan tumbuh sejalan dengan percepatan investasi dan pengembangan wilayah Kertajati.