Sarendo-Rendo 2025: Mengangkat Tari Topeng Betawi ke Panggung Budaya Global
INDUSTRY.co.id - Jakarta kembali bersiap menyambut perhelatan budaya, pesta pertunjukan seni budaya Betawi, "Karnaval Sarendo-Rendo 2025”, guna memperkuat posisi Jakarta sebagai kota budaya yang terbuka, inklusif, dan berkarakter.
"Karnaval Sarendo-Rendo 2025” Mengusung semangat sarendo-rendo, yang berarti “beramai-ramai” dalam bahasa Betawi, karnaval ini akan menghadirkan parade tari topeng sepanjang tiga kilometer, membentang dari Balai Kota, melintasi Sarinah, hingga berakhir megah di sisi selatan Monas.
Kepala Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB) Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Rinaldi menegaskan 'Karnaval Sarendo-Rendo' merupakan bentuk nyata komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam merawat, menghidupkan, dan memperkenalkan seni budaya Betawi secara lebih luas. Mengangkat tema “Tari Topeng Betawi”, Rinaldi menyebut, 'Karnaval Sarendo-Rendo' tidak hanya menghadirkan kesenian topeng khas Betawi, tetapi juga rangkaian topeng Nusantara serta mancanegara sebagai simbol keberagaman dan kreativitas budaya Jakarta.
“Kegiatan ini diharapkan dapat melestarikan pertunjukan seni budaya Betawi, serta menegaskan citra Jakarta sebagai pusat kebudayaan yang menghubungkan tradisi lokal dengan ekspresi budaya global,” ujar Rinaldi dalam Podcast Rabu Belajar yang disiarkan langsung dari Mal Pelayanan Publik DKI Jakarta dan Youtube Pemprov DKI Jakarta, Rabu (10/12/2025).
Rinaldi menjelaskan, 'Karnaval Sarendo-Rendo' tahun ini akan menjadi ruang apresiasi seni dan budaya bagi lebih dari 15 sanggar Betawi yang siap tampil membawakan karya terbaik mereka. Lebih dari 200 penari dipastikan turut memeriahkan parade dari awal hingga akhir, menjadikan karnaval ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan perayaan besar seni budaya Betawi yang dinamis, meriah, dan penuh kebanggaan lokal.
“Daya tarik utama dalam karnaval ini, yakni menghadirkan ondel-ondel raksasa yang menjulang tinggi dan Topeng Betawi, merefleksikan karakter Jakarta yang ramah dan ekspresif, OndelOndel Raksasa ini akan menemani parade karnaval dan menjadi ikon Karnaval Sarendo-Rendo 2025. Jadi, terdapat 2 Ikon, yaitu Sarendo Abang dan Sarendo None,” ungkap Rinaldi.
Tidak hanya itu, para pengunjung dapat menikmati deretan kuliner Betawi dari para pelaku UMKM di Jakarta, mulai dari selendang mayang, kerak telor, toge goreng, laksa Betawi, kue dongkal, kue ape, putu mayang, hingga Bir Pletok dan Es Goyang. Suasana meriah semakin lengkap dengan hadirnya 'pasar malem' yang menyuguhkan berbagai permainan rakyat seperti komedi putar, trampolin, atraksi engrang juggling, serok ikan, hingga odong-odong statis yang mengundang nostalgia.
“Selain itu, juga akan ada 'panggung rakyat gembira' yang akan menampikan musisi kebanggaan tanah air, seperti: Danilla, Endah & Ressa, Mocca, Azul Jiung, Boysjob dan lain sebagainya,” papar Rinaldi.
'Karnaval Sarendo-Rendo' dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 14 Desember 2025, mulai pukul 06.00 hingga 20.00 WIB di kawasan Monas, Jakarta Pusat. Gelaran ini diperkirakan akan menyedot perhatian hingga 10.000 pengunjung, menjadikannya salah satu perayaan seni budaya Betawi, terbesar di Jakarta.
UP GPSB Perkuat Pengelolaan Gedung Kesenian: Jaga Identitas & Hidupkan Komunitas
Rinaldi menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan juga terus memperkuat upaya pelestarian pertunjukan seni budaya Betawi dan keberdayaan pelaku seni di Jakarta. Salah satu langkah strategis tersebut, diwujudkan melalui pengelolaan gedung-gedung kesenian bersejarah dan cagar budaya, oleh Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB) Dinas Kebudayaan ProvinsI DKI Jakarta.
Rinaldi mengungkapkan, UP GPSB mengelola lima gedung kesenian, yakni Gedung Kesenian Jakarta, Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata, Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Gedung Taman Benyamin Suaeb, dan Gedung Balai Budaya Condet. UP GPSB berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang seni budaya yang inklusif, relevan, dan tetap menjaga nilai historisnya.
“Fokus kerja dari tim UP GPSB ini, tidak hanya meningkatkan retribusi daerah semata melalui persetujuan penggunaan gedung, melainkan juga bagaimana komunitas seni budaya menjadi bergairah. Jadi pertunjukan seni budaya dapat menjadi daya tarik wisata, sehingga Jakarta bisa menjadi kota global dan berbudaya yang terus meningkat,” ujar Rinaldi.
Rinaldi menyebut, menjaga identitas masing-masing gedung seraya tetap menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, menjadi tantangan terbesar dalam mengelola lima gedung kesenian bersejarah dan cagar budaya di Jakarta. Ia mengatakan, UP GPSB pun secara konsisten melibatkan berbagai komunitas dan pemangku kepentingan melalui diskusi dan pertukaran masukan untuk memastikan pengelolaan gedung sesuai kebutuhan publik.
“Menemukan keseimbangan antara pelestarian nilai sejarah dan penyajian program yang relevan, ini menjadi tantangan yang paling utama. Regenerasi penonton dan pelaku seni juga menjadi tantangan tersendiri. Kami harus memastikan bahwa identitas khas setiap pertunjukan tetap hidup, namun juga tetap menarik bagi generasi muda,” ungkap Rinaldi.
Tantangan lain yang juga krusial adalah kondisi fisik dan fasilitas yang berbeda-beda di setiap gedung, sehingga membutuhkan strategi perawatan yang spesifik dan berkelanjutan untuk memastikan kenyamanan dan kelayakan penggunaan bagi komunitas seni.
Dalam upaya memperluas jangkauan dan memperkenalkan Gedung Pertunjukan Seni Budaya kepada generasi Z dan Alpha, Rinaldi pun menilai perlunya pendekatan komunikasi yang strategis dengan cara kreatif, berbeda, dan relevan. Lewat pendekatan tersebut, UP GPSB terus berupaya menghadirkan berbagai program seni yang inovatif, menarik, dan mudah diakses generasi muda, tanpa menghilangkan nilai historis yang melekat pada tiap gedung.
“Saya percaya, bahwa ketika kita menggunakan pendekatan komunikasi yang strategis, maka organisasi nantinya akan memiliki fondasi yang penting untuk memperkuat efektivitas mencapai tujuannya dengan efisien,” pungkas Rinaldi.