Inovasi Wärtsilä Tingkatkan Stabilitas Jaringan Listrik dan Mendukung Industri Pusat Data Berbasis AI di Indonesia

Oleh : Kormen Barus | Sabtu, 22 November 2025 - 06:59 WIB · 5 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta-Seiring percepatan transisi energi dan transformasi digital di Indonesia, perusahaan teknologi Wärtsilä mendukung kemajuan tersebut melalui teknologi mesin terbaik dan solusi inovatif yang menghadirkan fleksibilitas serta keandalan.

Pada Energy Transition Roundtable yang diselenggarakan dalam rangkaian Electricity Connect 2025, Wärtsilä mengundang pemerintah, pelaku utilitas, akademisi, dan para pemimpin industri untuk membahas strategi penguatan ketahanan jaringan listrik seiring meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan dan melonjaknya permintaan listrik.

Diskusi berfokus pada integrasi energi terbarukan, fleksibilitas jaringan, penyelarasan kebijakan, serta peningkatan kebutuhan energi untuk mendukung ekonomi digital Indonesia yang terus tumbuh, termasuk pusat data berbasis AI.

Mendorong integrasi energi terbarukan melalui fleksibilitas

Peningkatan kapasitas tenaga surya dan angin di Indonesia merupakan langkah penting menuju target nol emisi, namun perkembangan ini juga menghadirkan tantangan baru. Energi terbarukan memiliki sifat intermiten tidak selalu menghasilkan listrik sepanjang waktu—sehingga dapat membuat jaringan rentan terhadap fluktuasi dan berpotensi menyebabkan pemadaman atau gangguan pasokan listrik. Pembangkit listrik berbasis mesin Wärtsilä mengatasi tantangan ini dengan menyediakan respons frekuensi yang sangat cepat, mampu aktif dalam hitungan detik untuk memulihkan keseimbangan jaringan ketika output energi terbarukan menurun.

“Fleksibilitas telah menjadi atribut paling krusial dalam sistem tenaga listrik modern,” ujar Kari Punnonen, Energy Business Director, Australasia, Wärtsilä Energy. “Teknologi fleksibel seperti mesin diperlukan untuk memungkinkan peningkatan penggunaan energi terbarukan tanpa mengorbankan keandalan.”

Mesin Wärtsilä dapat menyala dan mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit, serta telah dirancang untuk masa depan dengan kemampuan beroperasi menggunakan bahan bakar berkelanjutan seperti hidrogen.

Lombok – contoh nyata fleksibilitas yang terbukti

Di Pulau Lombok, pembangkit listrik mesin Wärtsilä berkapasitas 135 MW memasok hampir 60% dari total kebutuhan listrik pulau tersebut. Setengah dari kapasitas mesin beroperasi sebagai pembangkit beban dasar, sementara sisanya berfungsi dalam mode penyeimbang, menyediakan pengendalian frekuensi ketika terjadi gangguan pada jaringan. Fleksibilitas operasional ini memungkinkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 20 MW di Lombok beroperasi secara andal tanpa penyimpanan energi berbasis baterai — sebuah studi kasus yang disorot dalam roundtable untuk menunjukkan bagaimana teknologi mesin yang responsif dapat mendorong pertumbuhan energi terbarukan sekaligus menjaga stabilitas sistem.

“Lombok membuktikan bahwa Indonesia dapat menyeimbangkan energi terbarukan sekaligus menjaga keandalan jaringan tanpa harus melakukan investasi berlebihan pada penyimpanan energi atau spinning reserve,” ujar Febron Siregar, Sales Director, Wärtsilä Energy. “Teknologi mesin kami mampu merespons fluktuasi secara cepat dan menstabilkan jaringan dalam hitungan detik.”

Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjar Nahor, S.T., M.T., dosen di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, menambahkan: “Pendekatan Wärtsilä mencerminkan kebutuhan Indonesia pada tahap transisi energi saat ini. Untuk meningkatkan kapasitas tenaga surya dan angin secara nasional, fleksibilitas jaringan bukan lagi pilihan—tetapi menjadi kebutuhan mendasar. Solusi yang mampu merespons dalam hitungan detik, seperti teknologi mesin Wärtsilä yang terbukti di Lombok, memastikan bahwa energi terbarukan yang bersifat intermiten dapat diintegrasikan tanpa mengorbankan keandalan sistem.” 

Penyelarasan kebijakan dan prospek pasar

Transisi energi Indonesia memerlukan penyelarasan kebijakan yang berani serta teknologi yang mampu menjembatani kebutuhan energi saat ini dengan masa depan yang berbasis energi terbarukan. RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) menetapkan hampir 3 GW proyek pembangkit listrik mesin gas (PLTMG) baru pada periode 2025–2034.

Fabby Tumiwa, CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) yang hadir sebagai panelis dalam Round Table Discussion, menekankan: “Hal ini menunjukkan bahwa fleksibilitas dan keandalan tetap menjadi inti dari strategi energi nasional kita. Untuk mempercepat integrasi energi terbarukan, Indonesia sangat membutuhkan solusi pembangkit yang dapat naik-turun daya dengan cepat, menstabilkan jaringan, dan memastikan keandalan di sistem kepulauan kita yang beragam.”

Mendorong Masa Depan Digital Indonesia

Perubahan besar lain yang membentuk kembali lanskap kelistrikan Indonesia adalah meningkatnya pusat data berbasis AI. Permintaan listrik global dari pusat data diproyeksikan tumbuh 250% pada tahun 2030, menciptakan tantangan dalam koneksi jaringan, pasokan, dan keandalan — dan Indonesia mengikuti tren yang sama. Pusat data menghadapi waktu tunggu yang panjang untuk koneksi jaringan dan harus beroperasi di wilayah yang keandalan listriknya masih tidak konsisten. Wärtsilä mengatasi tantangan ini dengan pembangkit listrik di lokasi yang dapat dipasang dengan cepat, yang memberikan daya andal di mana dan ketika dibutuhkan.

“Di beberapa pasar, menghubungkan pusat data ke jaringan bisa memakan waktu hingga 10 tahun, sehingga menunda proyek baru dan memperlambat kemajuan ekonomi,” kata Febron Siregar. Mikrogrid yang menggabungkan energi terbarukan, mesin Wärtsilä, dan penyimpanan energi menawarkan solusi yang hemat biaya dan rendah emisi untuk pusat data. Dengan menyediakan pembangkitan di lokasi, operasi yang independen dari jaringan, dan skalabilitas cepat, sistem ini memungkinkan operator untuk mengakses daya dengan cepat sambil menjaga ketahanan dan efisiensi.”

Pendekatan ini sudah diterapkan secara global. Di Amerika Serikat, Wärtsilä baru-baru ini mendapatkan pesanan 282 MW untuk memasok daya bagi proyek pusat data besar di Ohio. Fasilitas tersebut akan menggunakan 15 mesin Wärtsilä 18V50SG yang berjalan dengan bahan bakar gas alam, memberikan energi yang andal secara langsung dengan emisi rendah dan konsumsi air minimal — sebuah keuntungan lingkungan yang signifikan bagi fasilitas komputasi berkebutuhan tinggi.

Bagi Indonesia, di mana ekspansi energi terbarukan dan digitalisasi berkembang secara paralel, teknologi mesin fleksibel Wärtsilä memastikan daya yang andal, berkelanjutan, dan dapat ditingkatkan untuk mendukung transisi energi dan pertumbuhan digital.

“Tujuan kami adalah membantu Indonesia membangun sistem energi yang berkelanjutan dan siap menghadapi masa depan,” kata Febron Siregar. “Mulai dari penyeimbangan energi terbarukan hingga memasok daya untuk pusat data berbasis AI, fleksibilitas adalah kunci bagi sistem kelistrikan yang tangguh dan berkelanjutan.”

Saat Indonesia semakin mendekati target energi terbarukan dan transformasi digitalnya, Wärtsilä tetap menjadi mitra terpercaya dalam menyediakan solusi mesin fleksibel yang mendorong kemajuan dan peluang — sebuah pesan utama yang ditekankan sepanjang Energy Transition Roundtable.

Kormen Barus

Pimpinan Redaksi

Kormen Barus adalah seorang jurnalis dan editor senior yang saat ini dikenal sebagai Pimpinan Redaksi di media portal berita nasional ⁠Industry.co.id. Ia juga memiliki rekam jejak sebagai jurnalis untuk portal Infomoneter dan Redaktur Pelaksana di Majalah Business Review. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia adalah penulis yang telah menerbitkan karya di bidang lingkungan, seperti buku yang berjudul "Desa Mandiri Menuju Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

Lihat semua artikel →