Siloam Hospitals Mampang Hadirkan Robotik TKR: Solusi Canggih untuk Atasi Nyeri Lutut Akibat Osteoartritis
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Lutut merupakan sendi utama penopang tubuh yang bekerja tanpa henti setiap hari. Dari berjalan, menaiki tangga, hingga aktivitas ibadah, lutut bergerak dalam rentang luas hingga 140 derajat. Karena peran vitalnya, sedikit gangguan saja bisa menyebabkan nyeri dan keterbatasan gerak.
Salah satu penyakit paling umum yang menyerang lutut adalah osteoartritis atau dikenal peradangan pada tulang dan sendi. Penyakit sendi degeneratif yang ditandai dengan kerusakan tulang rawan, umumnya menyerang usia di atas 50 tahun. Kondisi ini ditandai oleh penipisan atau hilangnya tulang rawan, yang menyebabkan pertemuan langsung antar tulang. Hasilnya, timbul nyeri hebat dan keterbatasan gerakan.
Jika tidak ditangani, osteoartritis bisa menyebabkan disabilitas permanen. Padahal, menjaga mobilitas tetap penting, bahkan di usia lanjut, untuk mempertahankan kualitas hidup.
Penanganan awal biasanya meliputi perubahan gaya hidup seperti penurunan berat badan, latihan ringan (low impact), fisioterapi, serta penggunaan obat atau injeksi lutut. Namun, jika kondisi sudah mencapai tahap lanjut (grade 3–4), di mana tulang rawan habis, maka tindakan Total Knee Replacement (TKR) menjadi solusi utama.
Prof.Dr.dr.Ismail Hadi Soebroto Dilogo, Sp.OT.Subsp.P.L (K) Subspesialis Panggul dan Lutut yang hadir sebagai narasumber dalam Media Gathering Siloam Hospitals Mampang yang bertajuk " Advance Robotic Orthopedic for Total Knee Replacement" menjelaskan, TKR adalah prosedur bedah untuk mengganti sendi lutut yang rusak dengan sendi buatan (prostetik). Prosedur ini bertujuan mengurangi nyeri, memulihkan fungsi lutut, dan meningkatkan kualitas hidup. Teknologi ini telah digunakan selama lebih dari 50 tahun dan terus berkembang.
“Penggunaan robot dalam TKR meningkatkan ketepatan dalam memotong tulang dan menempatkan implan secara presisi, sesuai dengan anatomi pasien masing-masing. Hal ini dapat mempercepat pemulihan, mengurangi rasa nyeri pasca operasi, serta meningkatkan umur implan lutut,” jelasnya.
Dikatakan lebih lanjut oleh Prof. Ismail, di era modern, TKR kini dapat dilakukan dengan bantuan robotik, seperti yang diterapkan di Siloam Hospitals Mampang. Robotic-assisted TKR bukan berarti dilakukan sepenuhnya oleh robot, melainkan dibantu oleh sistem navigasi canggih untuk meningkatkan akurasi dan hasil operasi.
Menurutnya, beberapa pasien bahkan bisa berjalan hanya dalam 4–12 jam setelah operasi menggunakan tongkat, dan banyak yang sudah bisa berjalan tanpa alat bantu hanya dalam beberapa hari.
Selain itu, tidak ada batasan usia untuk menjalani prosedur ini. Bahkan pasien berusia 91 tahun berhasil menjalani operasi, selama kondisi kesehatan umum mendukung dan ada motivasi untuk aktif.
Dengan teknologi navigasi real-time, robot bekerja sebagai "asisten" yang membantu memastikan semua prosedur dilakukan dengan standar terbaik. Keputusan klinis tetap berada di tangan dokter, menciptakan kombinasi optimal antara keahlian manusia dan kecanggihan teknologi.
Kelebihan penggunaan robot dalam TKR dibanding metode konvensional antara lain meliputi:
• Pemulihan lebih cepat (latihan gerak bisa dimulai di hari yang sama).
• Sayatan lebih kecil dan minim invasif.
• Operasi lebih efisien dan terencana.
• Nyeri pasca operasi lebih ringan.
Banyak orang menunda operasi lutut karena khawatir terhadap rasa sakit, pemulihan yang lama, atau hasil yang tidak memuaskan. Teknologi robotic TKR menjawab kekhawatiran tersebut dengan prosedur yang lebih akurat, minim risiko, dan lebih nyaman.
Siloam Hospitals Mampang telah mengadopsi teknologi ini sebagai bagian dari komitmennya memberikan layanan ortopedi berstandar internasional, khususnya untuk pasien dengan kebutuhan penggantian sendi lutut.
"Kami percaya, kehadiran teknologi robotik dalam TKR bukan sekadar inovasi, tetapi lompatan besar menuju era perawatan yang lebih personal, aman, dan efektif," tutup Prof. Ismail.