CT Advance Technology – Tubacex Teken MoU Produksi Baja Tahan Karat Berkualitas Tinggi untuk Sektor Migas
INDUSTRY.co.id - Jakarta – CT Advance Technology secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Tubacex Group untuk pengembangan industri baja nasional.
Penandatanganan Nota Kesepahaman dilakukan di Hotel Park Hyatt Jakarta, Rabu (11/6) dan disaksikan secara langsung oleh Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Setia Diarta.
Dalam sambutannya, Setia Diarta menyambut baik Nota Kesepahaman antara CT Advance Technology dengan Tubacex Group. Menurutnya, kolaborasi baru ini untuk mendukung proyek-proyek besar di sektor minyak dan gas (migas).
Kemitraan ini akan memproduksi material baja tahan karat berkualitas tinggi seperti, Austentic, Duplex, Super Duplex, dan 6Mo, serta produk pipa dan fitting berbahan baku paduan tinggi lainnya.
“Kolaborasi ini diperkirakan akan memenuhi kebutuhan hingga 10.000 ton material duplex per tahun, terutama untuk kontraktor bagi hasil (PSC),” kata Setia Diarta.
CT Advance Technology juga berkomitmen akan melakukan investasi sebesar Rp 100 miliar untuk melakukan proses hilirisasi terhadap produk setengah jadi dari Tubacex Group di fasilitas produksinya di Cilegon, dan akan menciptakan 50 lapangan kerja baru.
“Saya berharap ini menjadi awal dari industri dalam negeri yang lebih kuat yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sektor migas nasional, tetapi juga mampu bersaing di pasar global,” ungkap Dirjen ILMATE.
Dirinya berharap Nota Kesepahaman ini akan memperkuat fondasi industri Indonesia dan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, khususnya di bidang teknologi maju seperti material baja eksotik yang diperkenalkan oleh Tubacex Group.
Dikesempatan yang sama, President Director PT CT Advance Technology, Henry Leo mengatakan, melalu kerja sama ini, CT Advance Technology menjadi produsen pertama di Indonesia yang memproduksi baja jenis duplex.
“Produk ini adalah untuk kebutuhan umumya di sektor migas, karena yang diinginkan adalah pipa yang anti korosi. So far, di Indonesia belum punya, kita yang pertama memproduksi ini,” jelas Henry.
Saat ini, tambahnya, kebutuhan akan pipa baja jenis duplex dipenuhi dari produk impor dari beberapa negara, termasuk China. Kebutuhan akan pipa baja duplex diperkirakan mencapai 8.000 – 10.000 ton.
“Ini juga akan membantu kita dalam program substitusi impor. Kebutuhan sekitar 8.000 – 10.000 ton itu setidaknya bisa diisi dari produk dalam negeri,” tuturnya.