Menjaga Pola Hidup Sehat Antisipasi Kualitas Udara yang Buruk

Oleh : Herry Barus | Senin, 04 September 2023 - 08:00 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta-  Memasuki awal September, kualitas udara di Jakarta hingga Jumat (01/09) minggu lalu masih dalam kategori tidak sehat.

Laman IQAir, pengukuran kualitas udara pada awal September menyebutkan, indeks kualitas udara di DKI Jakarta tercatat di angka 160 atau tidak sehat

Adapun konsentrasi polutan tertinggi dalam udara DKI Jakarta hari jumat  (01/09/2023) minggu lalu mencapai PM 2.5, dengan nilai konsentrasi 72 mikrogram per meter kubik. Konsentrasi tersebut 20,8 kali nilai panduan kualitas udara tahunan World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia.

Dari sisi kesehatan, Dokter Spesialis Paru-paru dari RS Siloam Asri, dr. Jaka Pradipta,Sp.P., menyatakan, tingkat polusi yang tinggi di ibu kota Indonesia dalam sepekan terakhir ini memiliki dampak signifikan pada kesehatan masyarakat, terutama berdampak pada organ dan saluran pernapasan manusia, akibat peningkatan kadar polutan dan senyawa kimia yang mengambang dan menyebar dilingkungan tempat tinggal masyarakat.

"Ada senyawa berbahaya yang kita hirup bersama, yaitu karbon monoksida, nitrogen oksida dan lainnya sehingga menimbulkan gangguan pernapasan, baik secara jangka pendek maupun jangka panjang", ungkap Jaka Pradipta melalui  edukasi yang digelar RS Siloam Asri, bertajuk : 'Polusi Udara Toxic? Seberapa Berbahaya ke Pernafasan Kita?', Jumat (01/09) di bilangan Mampang, Jakarta.

Menurut dokter Spesialis Paru, Jaka Pradipta, buruknya kualitas udara di lingkungan kehidupan dapat merusak pola tubuh akibat jumlah polutan yang tidak dapat lagi disaring oleh bulu hidung.

"Jumlah polutan yang berlebihan dan masuk kedalaman tubuh dapat menimbulkan gejala dan infeksi dari saluran pernapasan", imbuhnya.

 

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per 28 Agustus 2023, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA pada area Jabodetabek berada di atas 200 ribu per bulan.

 

Pencegahan

 Beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan seseorang rentan terinfeksi melalui polusi udara, yakni seseorang dengan riwayat penyakit kronik pernapasan seperti asma dan ISPA, yang jika terkena efek polusi udara ini maka akan semakin akut, yaitu sesak nafas lebih kuat didalam pernapasan, mudah kambuh, dan merasakan gejala yang lebih berat dari sebelumnya.

 

Pada sesi edukasi ini dijelaskan pula akan gejala gejala yang dapat timbul akibat polusi udara.

 

”Gejala akibat polusi ini dibagi dua yaitu gejala akut dan gejala kronik. Gejala akut ini merupakan gejala yang dapat dirasakan langsung maupun jangka pendek, seperti bersin secara kontinyu, pilek, batuk dan kambuh alergi pernapasan. Sedangkan gejala kronik merupakan gejala jangka panjang yang cukup parah seperti paru paru kronik, kanker paru paru pun kardiovaskular", ungkap dr. Jaka Pradipta, Sp.P,  melalui edukasinya yang diikuti puluhan peserta melalui sejumlah komunitas kesehatan.

Guna pencegahannya, dapat dilakukan usaha seperti menggunakan aplikasi untuk menilai kualitas udara, apakah aman untuk dilakukan aktivitas di luar pun sangat dianjurkan menggunakan masker medis atau standar KN95 dalam melakukan aktivitas di luar ruangan. Menutup jendela rumah supaya udara yang sedang memburuk tidak masuk ke dalam ruangan, merupakan salah satu langkah tepat, sehingga rumah tetap menjadi tempat yang aman dari polusi.

"Pencegahan ini harusnya dimulai dari dalam diri sendiri, yaitu menjaga pola hidup sehat dengan berolahraga yang cukup,tidak merokok, tidak menkonsumsi minuman beralkohol dan selalu meningkatkan imunitas tubuh dengan vitamin serta asupan yang tepat untuk tubuh", pungkas dr. Jaka Pradipta,Sp.P., yang jadwal prakteknya dapat ditinjau melalui aplikasi My Siloam.

Herry Barus Lihat semua artikel →