Depresiasi Ringgit Malaysia Turut Topang Kenaikan Harga CPO

Oleh : Abraham Sihombing | Kamis, 06 Juli 2017 - 16:12 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) selama empat hari berturut-turut pada pekan ini tampaknya tidak terlepas dari kenaikan harga minyak kedelai (soya-oil), yang merupakan kompetitor terdekatnya di pasar komoditi Chicago Board of Trade (CBT). Kenaikan CPO dan minyak kedelai tersebut disebabkan oleh penurunan produksi.

Menurut data Reuters, produksi CPO Malaysia turun 2,1% menjadi tinggal 1,62 juta ton pada Juni 2017 dibandingkan sebanyak 1,65 juta ton pada Mei 2017. Hingga akhir Juni 2017, total cadangan produksi CPO Malaysia mencapai 1,56 juta ton pada Juni 2017, naik tipis 0,2% dibandingkan sebanyak 1,55 juta ton pada Mei 2017.

“Selain karena penurunan produksi CPO, depresiasi kurs ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika turut mendorong kenaikan harga CPO di Malaysia,” ujar Putu Agus Pransuamitra, analis bursa komoditi dari PT Monex Investindo, di Jakarta, Kamis (06/07/2017).

Putu mengemukakan, kurs dolar Amerika terpantau menguat terhadap mayoritas mata uang negara-negara berkembang pada hari ini. Itu terjadi setelah hasil rapat (notulen) Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan peluang berlanjutnya kenaikan suku bunga Amerika dipublikasikan. Kendati demikian, kenaikan suku bunga itu masih harus tergantung pada publikasi data-data ekonomi lainnya, khususnya data inflasi.

“CPO di Bursa Derivatif Malaysia pada hari ini diperkirakan bergerak pada rentang harga 2.525-2.280 ringgit per ton,” pungkas Putu. (Abraham Sihombing)

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →