Tahun Buku 2016, Bekasi Fajar Industrial Estate Bagi Dividen Rp33 Miliar

Oleh : Abraham Sihombing | Kamis, 08 Juni 2017 - 16:34 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id

Cibitung – PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) akan membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2016 sebesar Rp33 miliar (Rp3,43 per saham) pada awal Juli 2017. Total dividen tunai yang akan dibagikan tersebut mencapai sekitar 10% dari laba bersih perseroan pada 2016 bernilai total Rp360 miliar.

“Pemegang saham perseroan telah menyetujui pembagian dividen tersebut dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan di kantor pusat perseroan pada hari ini,” ujar Swan Mie Rudy Tanardi, Direktur Keuangan BEST, dalam acara paparan publik di Kawasan Industri MM2100, Cikarang Barat, Bekasi, Kamis (08/06/2017).

Swan Mie mengemukakan, disamping membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2016 yang dananya diambil dari laba bersih 2016 perseroan, manajemen BEST juga mengalokasikan dana yang diambil dari laba bersih tersebut sebesar Rp26,35 miliar sebagai dana cadangan guna menopang kelangsungan bisnis perseroan kedepan. Sisa laba bersih 2016 perseroan dibukukan sebagai laba ditahan (retained profit)

Swan Mie juga menuturkan, penjualan BEST pada tahun ini ditargetkan sebesar Rp1 triliun, atau lebih tinggi 21,3% dibanding realisasi penjualan pada 2016 sebesar Rp824,41 miliar. Penjualan lahan masih mendominasi penjualan konsolidasi BEST pada tahun ini yaitu sekitar 90% dan sisanya sekitar 10% diperkirakan bakalan berasal dari pendapatan berkelanjutan (recurring income).

Sementara itu, lanjut Swan Mie, marjin laba bersih BEST senantiasa diusahakan lebih dari 40% pada tahun ini. Itu artinya, laba bersih BEST pada 2017 ini ditargetkan lebih dari Rp400 miliar, atau lebih tinggi 11,11% dibandingkan dengan realisasi laba bersih 2016 sebesar Rp360 miliar.

Untuk mendukung pencapaian target penjualan perseroan tahun ini, demikian Swan Mie, manajemen BEST mengalokasikan dana hingga Rp800 miliar untuk membiayai belanja barang modal (capital expenditure/capex). Sekitar 80% dari dana capex tersebut, atau sebesar Rp640 miliar, akan digunakan untuk membiayai akuisisi lahan dan pengembangan infrastruktur. Sisanya sekitar Rp160 miliar akan digunakan untuk membiayai berbagai proyek perseroan, termasuk penyelesaian proyek pembangunan perkantoran sebesar Rp70 miliar dan proyek pengembangan hotel sebesar Rp20 miliar.

“Kami menargetkan akan mengakuisisi tanah seluas 50-60 hektar pada 2017. Sementara itu, kami menargetkan penjualan lahan seluas 30-40 hektar pada tahun ini. Hingga kini, total landbank gross seluas 1.045 hektar dengan lahan yang terjual seluas 500 hektar,” pungkas Swan Mie. (Abraham Sihombing)

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →