Industri Mamin Harap-harap Cemas Tunggu Persetujuan Impor Gula Rafinasi untuk 2022

Oleh : Ridwan | Senin, 27 Desember 2021 - 13:40 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Sektor industri masih menunggu Persetujuan Impor (PI) untuk gula rafinasi kebutuhan industri makanan dan minuman (mamin) di 2022.

Pasalnya, jika PI ini terlambat terbit maka dikhawatirkan akan menganggu proses produksi di industri tersebut.

Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Supriadi menjelaskan untuk kebutuhan gula industri di 2022, Kemenperin telah memberikan rekomendasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Rekomendasi ini disampaikan melalui Sistem Nasional Neraca Komoditas (SNANK) Lembaga National Single Window (LNSW). Kemenperin pun masih menunggu kapan PI ini akan terbitkan agar impor gula mentah (raw sugar).

"Untuk izin impor raw sugar, Kemenperin sudah memberikan rekomendasinya melalui sistem SNANK-LNSW. Sekarang sedang menunggu PI dari Kemendag (Kementerian Perdagangan)," katanya , Senin (27/12).

Ia mengatakan, rekomendasi yang diberikan Kemenperin untuk impor gula mentah mencapai 3,4 juta ton. Impor tersebut ditujukan untuk 11 Pabrik Gula Rafinasi (PGR).

"Jumlah yang kita berikan impor raw sugar untuk 11 PGR untuk gula bahan baku industri maminfar (makanan, minuman, dan farmasi) sebesar 3,4 juta ton," jelas dia

Selain itu, Kemenperin juga memberikan rekomendasi impor gula untuk kebutuhan konsumsi. Hal ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 10 Tahun 2017 tentang Jaminan Ketersediaan Bahan Baku Gula dalam Rangka Pemenuhan Kebutuhan Gula Nasional.

"Dan raw sugar untuk gula konsumsi dalam rangka insentif investasi sesuai Permenperin 10/2017 sebesar 840 ribu ton untuk 12 pabrik gula basis tebu," tutup Supriadi.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →