Kemenhub Rangkul Investor AsiaTerkait Proyek Pelabuhan Kuala Tanjung II dan III

Oleh : Herry Barus | Selasa, 06 Juni 2017 - 08:52 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta- Kementerian Perhubungan tengah membidik investor dari wilayah Asia untuk kelanjutan proyek Pelabuhan Kuala Tanjung tahap II dan III.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi usai menerima hibah Sistem Lalu Lintas Kapal (VTS) dari Jepang di Jakarta, Senin (5/6/2017) mengatakan Port of Rotterdam selaku investor dari Belanda menyatakan sudah siap membangun proyek Kuala Tanjung tahap II.

"Beberapa saat lalu, kita sudah mendapat surat penegasan dari Port of Rotterdam bahwa pihaknya sudah bersedia menjadi mitra kita," katanya.

Namun, menurut Budi, karena proyek pelabuhan penghubung internasional tersebut terdiri dari tiga tahap, maka masih banyak potensi yang bisa dikerjasamakan dengan investor lain.

"Kalau Port of Rotterdam itu 'kan basisnya di Eropa, kita butuh investor yang dari Timur, pihak Port of Rotterdam pun sudah setuju," katanya.

Budi menyebutkan investor lain yang sudah menyatakan minatnya, yaitu dari Tiongkok dan Dubai, selain itu juga pihaknya menawarkan ke Jepang.

"Kita mengajak beberapa pihak, terutama Jepang. Selain Belanda, ada China dan Dubai, bisa kolaborasi," katanya.

Dia menjelaskan penawaran tersebut bukan hanya untuk pembangunan saja, melainkan untuk mengelola Pelabuhan Kuala Tanjung.

"Ini kan pelabuhan besar, menampung kegiatan internasional," katanya.

Total investasi proyek Pelabuhan Kuala Tanjung sekitar Rp34 triliun dengan rincian, investasi tahap pertama Rp3 triliun, tahap kedua Rp8 triliun dan tahap ketiga senilai Rp23 triliun.

Budi mengatakan saat ini tengah dikerjakan pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung Tahap 1, di antaranya sistem kepabeanan dan "crane" yang sudah rampung.

Selain itu, dia juga tengah gencar mempromosikan Pelabuhan Kuala Tanjung ke sejumlah perusahaan pelayaran.

Dengan mulai dioperasikannya pemanduan kapal di Selat Malaka dan Singapura oleh Indonesia, Budi menilai hal itu bisa dimanfaatkan untuk menggiring kapal-kapal tersebut ke Pelabuhan Kuala Tanjung.

Pasalnya, terdapat 90.000 kapal yang melintasi selat tersebut dalam setahun, termasuk 14.000 kapal Jepang.

Karena itu, Jepang memberikan hibah senilai 1,43 miliar yen atau Rp172,4 miliar untuk sistem VTS guna pemanduan kapal-kapal yang melintas di selat tersebut.

"Dengan pemanduan itu kita dapat hubungan baik dengan Jepang, sehingga kapal-kapal Jepang memberikan prioritas ke Kuala Tanjung," katanya.

Budi juga telah membahas dengan Menteri Keuangan dan Menteri Badan usaha Milik Negara bahwa akan menjadikan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan yang menerapkan sistem canggih dan teknologi terkini.

"Sehingga, kita lebih kompetitif, kita tidak saja punya penduduk yang banyak, pasarnya yang besar, tetapi secara teknologi kita mengoperasikan sarana dan prasarana kemaritiman ini sama baiknya, kalau bisa lebih baik," katanya.

Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii mengatakan ke depannya dimungkinkan untuk menjalin kerja sama dalam bidang lainnya, terutama transportasi dengan Indonesia.

"Sampai dengan saat ini, kami belum mengetahui ada kerja sama lagi antara Jepang dan Indonesia, tetapi masih ada hal yang bisa dikerjasamakan dengan Indonesia," katanya.

Herry Barus Lihat semua artikel →