Pasca Implementasi Single System, Pengembangan Bisnis Digital Bank Syariah Indonesia Kian Kuat

Oleh : Hariyanto | Selasa, 16 November 2021 - 10:47 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Pengembangan bisnis digital PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) dinilai semakin menguat pasca implementasi single system pada 1 November lalu. Hal ini diproyeksikan memperkuat kinerja bank syariah terbesar di Tanah Air tersebut pada masa mendatang.

Pengamat BUMN dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Toto Pranoto mengatakan diberlakukannya single system oleh BSI menjadi momentum transformasi guna menjawab potensi pengembangan bisnis digital.

Menurut Toto, pasca rampungnya proses migrasi dan integrasi jaringan, BSI akan dapat mengeksplorasi potensi bisnis digital secara lebih agresif. 

"Memang digital banking ini adalah potensi yang sangat besar. Dengan integrasi, Bank BSI akan mampu membuat operasional mudah, cepat, dan menyediakan banyak fitur baik transaksi, tabungan, dan pembiayaan," kata Toto yang dikutip INDUSTRY.co.id, Selasa (16/11/2021).

Seperti diketahui, BSI resmi melayani nasabah dengan single system awal bulan lalu, sekaligus menandai tahap akhir dari proses migrasi nasabah serta awal baru bagi dunia perbankan syariah di Indonesia.

Dengan demikian, seluruh produk yang ada di tiga bank legacy dapat dilayani seluruhnya dalam satu sistem BSI. Selain itu, BSI kini memiliki satu core banking system, satu enterprise data, satu sandi kode bank di 451, dan satu pelaporan keuangan dengan nama Bank Syariah Indonesia.

Toto menuturkan Indonesia memiliki penduduk muslim sangat besar, yang sekitar 229 juta jiwa atau sekitar 87,2% dari total populasi. Menurut Toto, masyarakat muslim ini banyak yang sudah mempertimbangkan produk keuangan syariah sebagai salah satu sarana untuk menyempurnakan ibadah.

Dengan potensi tersebut, BSI memiliki ruang pertumbuhan bisnis yang sangat besar. Toto merinci produk digital yang potensinya besar utamanya adalah transaksi baik untuk keperluan sehari-hari maupun keperluan sosial keagamaan seperti zakat, infak, sedekah dan wakaf atau Ziswaf.

"Terlebih penduduk kelas menengah Indonesia juga tumbuh, sehingga kebutuhannya terhadap produk keuangan dengan basis digital semakin meningkat," imbuhnya.

Di luar itu, penghimpunan dana tabungan masyarakat dengan akad syariah pun akan dapat lebih kuat lagi dengan layanan digital. "Selanjutnya tentu untuk pembiayaan syariah yang mana prosesnya akan lebih cepat dan mudah bagi nasabah. Tentunya lebih prudensial dengan pengelolaan big data lebih kuat," jelas Toto.