Evaluasi Pembelajaran Daring
INDUSTRY.co.id - Pandemi covid-19 ini telah mendisrupsi dunia pendidikan dengan luar biasa. Tulisan ini akan membahas dunia pendidikan tinggi sesuai dengan pengalaman yang dihadapi oleh penulis.
Jika sebelum pandemi, semua pembelajaran daring (online) harus mendapatkan ijin dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), maka di masa pandemi justru semua pembelajaran harus dilaksanakan secara daring.
Perubahan yang begitu tiba-tiba ini mengusik kenyamanan banyak pemangku kepentingan terkait. Dosen yang selama ini gagap teknologi dipaksa untuk melek teknologi. Mahasiswa yang biasanya lebih menggunakan gawainya untuk gim atau berselancar di media sosial, kini harus menggunakan gawainya untuk kegiatan belajar.
Kampus juga dipaksa meningkatkan kapasitas bandwith serta platform pembelajaran daring yang tentunya tidak murah.
Meskipun demikian, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran daring sangat tidak maksimal jika tidak ada komitmen yang kuat dari dosen dan terutama dari mahasiswa. Dalam banyak kesempatan, mahasiswa sering ijin mematikan video dengan alasan signal jelek, atau sedang di Rumah Sakit, dan lain sebagainya.
Dosen juga seringkali mengajar kurang dari semestinya. Misalkan 3 sks yang harusnya diisi dengan pembelajaran tatap muka secara daring selama 150 menit hanya diisi selama 30 menit atau maksimal satu jam dan dilaporkan secara 150 menit. Sebagai gantinya, dosen memberikan banyak tugas ke mahasiswa dan akhirnya mahasiswa mengalami jenuh dengan tugas. Belum lagi masalah ujian yang sangat sulit dipantau kejujuran dari mahasiswa.
Hal-hal di atas adalah pengalaman langsung yang dialami para pendidik di masa pandemi ini. Untuk mahasiswa dari ilmu sosial masih agak mendingan. Namun untuk mahasiswa Fakultas teknik yang membutuhkan banyak praktek di lapangan menjadi sangat sulit dilakukan dengan pembelajaran secara daring.
Kualitas Pembelajaran Daring
Dalam pembelajaran tatap muka, seorang dosen lebih mudah memantau mahasiswanya. Jika ada mahasiswa yang mengantuk atau sibuk sendiri, maka dosen bisa menegur atau melibatkan mahasiswa tersebut. Sementara dalam pembelajaran daring, mahasiswa dengan mudah dapat mematikan video dan audio kemudian tidak terpantau lagi oleh sang dosen.
Oleh karenanya, pembelajaran daring sangat membutuhkan komitmen yang kuat dari dosen dan mahasiswa. Dosen dituntut untuk bekerja lebih ekstra, yaitu memantau semua mahasiswanya satu per satu dan juga mahasiswa diminta untuk ikut berkomitmen yaitu mengikuti pelajaran secara serius. Dengan demikian, barulah pembelajaran daring kualitasnya menyamai atau minimal mendekati dengan pembelajaran tatap muka.
Dosen juga harus berbesar hati tidak perlu memberikan terlalu banyak tugas kepada mahasiswa supaya mahasiswa tidak “burn out” dan akhirnya menjadi malas belajar. Demikian juga tes dengan soal tertutup sudah tidak jamannya lagi dan bisa digantikan dengan tugas ataupun proyek tertentu.
Pembelajaran campuran
Seiring dengan banyaknya keterbatasan perkuliahan secara daring, maka perlu mulai dipikirkan pembelajaran campuran, yaitu gabungan antara pembelajaran secara daring dan luring (offline). Dengan protokol kesehatan yang super ketat dan vaksinasi yang semakin masal, mestinya kampus mulai melaksanakan pembelajaran secara campuran.
Prioritas utama untuk mahasiswa Fakultas teknik yang membutuhkan banyak latihan dan eksperimen di laboratorium.
Semua kampus tentunya tidak menginginkan kampusnya menjadi kluster penyebaran covid-19. Oleh karenanya, jika diberikan kebebasan kampus tentu akan sangat berhati-hati dalam melaksanakan pembelajaran campuran dengan prokes yang ketat.
Kampus di Amerika sudah banyak yang memulai perkuliahan secara luring, dan tercatat tidak terjadi peningkatan kasus Covid-19 dari kampus-kampus tersebut.
Solusi berikutnya adalah mengirimkan mahasiswa untuk magang dan kemudian pembelajaran teori tetap dilaksanakan secara daring. Dengan demikian, mahasiswa mendapatkan pengalaman praktek di lapangan dan tetap dapat menyesuaikan dengan teori yang dipelajari secara daring.
Tanpa terobosan pembelajaran dan hanya menerima nasib, yaitu meneruskan pembelajaran secara daring maka kualitas pembelajaran kita akan semakin menurun sementara pandemi ini kita tidak tahu kapan akan selesainya.
Penulis: Jony Oktavian Haryanto, Profesor Manajemen di President University.