Luar Biasa! Presiden Xi Jinping dan Jokowi Bakal Jadi Orang Pertama Jajal Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Oleh : Ridwan | Senin, 07 Juni 2021 - 18:10 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Indonesia akan menjadi negara pertama di Asia Tenggara (ASEAN) yang memiliki kereta cepat. Pembangunan kereta cepat Jakarta - Bandung dikebut demi mengejar target uji coba pada November 2022.

Saat peresmian, Presiden China Xi Jinping dan Presiden Jokowi akan menjajal duluan infrastruktur senilai Rp 80 triliun ini.

Momen ini dijadwalkan bertepatan dengan agenda Indonesia sebagai tuan rumah forum G20 di Bali.

"Hingga saat ini agenda peresmian dengan Presiden China Xi Jinping, namun kami belum mendapatkan informasi resmi nya. Tapi kita telah siap. Kita tinggal menunggu arahan dari pemerintah," kata General Manager Corporate Secretary PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Mirza Soraya, Senin (7/6).

Selain itu, Mirza memastikan pihaknya bakal terus menggenjot pembangunan kereta cepat Jakarta - Bandung.

Saat ini, progres pembangunannya sudah mencapai 74 persen dan ditargetkan beroperasi komersial pada 2022.

Ia menjelaskan target beroperasinya kereta cepat di 2022 tersebut bukan secara sengaja dikebut untuk mengejar waktu pelaksanaan KTT G20 di Indonesia.

“Penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah KTT G20, sebenarnya adalah pada tahun 2023, namun dimajukan menjadi tahun 2022. Sementara penyelesaian proyek KCJB memang sudah ditargetkan bisa beroperasi secara komersial akhir tahun 2022. Jadi, bukan sengaja dikejar agar selesai saat KTT G20 digelar," ujar Mirza.

Meski begitu, Mirza menganggap sebuah kehormatan Indonesia bisa menjadi tuan rumah pagelaran KTT G20.

Apalagi, kalau pada saat bersamaan Indonesia bisa menunjukkan sudah mempunyai layanan kereta cepat.

"Memiliki kereta cepat ini juga sebagai simbol Indonesia maju, bahwa kita bisa setara dengan negara-negara maju," tutur Mirza.

Saat ini belum ada negara Asia Tenggara yang memiliki kereta berkecepatan 350 kilometer per jam ini. Indonesia bisa menjadi pioner dalam transportasi kereta cepat di kawasan, yang bisa dipamerkan kepada negara-negara maju pada ajang G20.

Sebelumnya Malaysia dan Singapura sempat memutuskan membangun kereta cepat yang menghubungkan dua negara. Tapi proyek itu mandek, hingga pada akhirnya batal. Akibat pembatalan ini pemerintah Malaysia harus membayar denda lebih dari 100 juta dollar Singapura kepada pemerintah Singapura.

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung memang memakan biaya yang besar. Dalam pengerjaan di Indonesia jauh dari kata mulus. Proyek ini digagas pada 2016 lalu, dan sempat molor akibat pembebasan lahan yang tidak kunjung selesai.

Selain itu proyek ini juga mengalami pembengkakan biaya investasi mencapai 23% dari nilai awal US$ 6,071 miliar. Akibat tidak akuratnya kajian feasibility study dan inflasi yang terjadi. Namun proyek di Indonesia terus berlanjut.

Nantinya kereta ini juga akan memiliki empat stasiun pemberhentian, yakni Halim (Jakarta), Walini (Karawang), Tegalluar (Kabupaten Bandung). Dengan waktu tempuh 36 menit hingga 44 menit dari Jakarta sampai ke Bandung.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →