Garuda Rugi, Erick Thohir Kembalikan 12 Pesawat Bombardier CRJ 1.000 Karena Merugikan

Oleh : kormen barus | Rabu, 10 Februari 2021 - 18:54 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta- Pengembalian 12 pesawat Bombardier CRJ 1.000 dilakukan sebagai langkah mengakhiri lebih awal (early termination) kontrak sewa pesawat (operating lease) tersebut mulai 1 Februari 2021, dari perjanjian semula yang jatuh tempo pada 2027 mendatang. Selain merugi, pengadaan pesawat Bombardier pada 2011 lalu juga tersangkut kasus korupsi yang melibatkan mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar.

Seperti melansir dari CNN Indonesia, Menteri BUMN Erick Thohir mengembalikan 12 pesawat Bombardier CRJ 1.000 yang digunakan oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk kepada pemberi sewa (lessor) Nordic Aviation Capital (NAC). Pertimbangannya, operasional pesawat tersebut justru merugikan maskapai pelat merah itu.

"Negosiasi kami lakukan tapi tentu negosiasi yang dicuekin atau bertepuk hanya sebelah tangan, ya kami bisa tepuk tangan sendiri. Kami ambil posisi, kami kembalikan," ujar Erick dalam konferensi pers, Selasa (10/2).

Secara total, Garuda Indonesia mendatangkan 18 unit pesawat Bombardier sejak 2011 lalu. Pesawat tersebut disewa dengan 2 skema yang berbeda. Pertama, 12 armada disewa menggunakan skema operating lease dari lessor NAC,

Sedangkan 6 armada lain disewa menggunakan skema financial lease dari penyedia financial lease Export Development Canada (EDC), dengan masa sewa pesawat sampai 2024.

Tak hanya dengan NAC, Kementerian BUMN dan Garuda Indonesia juga tengah melakukan negosiasi dengan EDC untuk proses early payment settlement contract financial lease atau penyelesaian sewa lebih awal untuk 6 pesawat Bombardier lainnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Garuda Indonesia Setiaputra mengungkapkan operasional pesawat Bombardier selama ini justru merugikan perusahaan.

Selama 7 tahun, Irfan mencatat secara total perusahaan rugi hingga US$210 juta, dengan estimasi rata-rata kerugian sebesar lebih dari US$30 juta per tahun. Di sisi lain, perseroan mengeluarkan biaya sewa sebesar US$27 juta setiap tahunnya.

"Jadi, kami sudah keluarkan setiap tahun untuk sewa pesawat US$27 juta untuk 12 pesawat tersebut tapi kami mengalami kerugian lebih dari US$30 juta," katanya.

Menurutnya, penyebab kerugian tersebut terjadi karena pesawat Bombardier tidak sesuai dengan kebutuhan pasar di Indonesia. Imbasnya, perusahaan pelat merah itu justru harus menderita kerugian. Bahkan, Garuda Indonesia bakal merugi apabila terus menerbangkan pesawat buatan Kanada itu.

"Dari tahun ke tahun, kami mengalami kerugian dengan menggunakan pesawat ini, ditambah dengan kondisi covid-19 memaksa kami tidak punya pilihan lain secara profesional untuk menghentikan kontrak ini," ucapnya.

Kormen Barus

Pimpinan Redaksi

Kormen Barus adalah seorang jurnalis dan editor senior yang saat ini dikenal sebagai Pimpinan Redaksi di media portal berita nasional ⁠Industry.co.id. Ia juga memiliki rekam jejak sebagai jurnalis untuk portal Infomoneter dan Redaktur Pelaksana di Majalah Business Review. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia adalah penulis yang telah menerbitkan karya di bidang lingkungan, seperti buku yang berjudul "Desa Mandiri Menuju Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

Lihat semua artikel →