Derita Ibu Harlinda Lihat Rumahnya Terendam Lumpur Akibat Banjir Bandang Luwu Utara

Oleh : Herry Barus | Jumat, 17 Juli 2020 - 12:31 WIB · 5 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Luwu- Banjir bandang yang menerjang Luwu Utara pada Senin (13/7/2020) malam lalu menyisakan luka mendalam bagi Harlinda Daling. Rumah yang ia tinggali terendam lumpur. Harta bendanya pun tak sempat diselamatkan karena terbawa arus banjir.

"Ini rumahku, masuk lumpur ke mari. Kena semua," ujar Harlinda sambil menunjuk ke rumahnya dengan terisak, Kemarin.

Ia juga berkisah, saat banjir datang, ia menyelamatkan diri ke atas penampungan air. "Saya naik ke atas penampungan air di belakang situ," ujarnya kepada Kepala Cabang PPPA Daarul Qur'an Makassar yang juga Ketua tim Siaga Bencana (SIGAB) Makassar Andi Kurniawan, yang menemaninya kembali ke rumah untuk melihat apakah ada harta bendanya yang tersisa.

Namun ternyata Ibu Harlinda tidak menemukan apa-apa. Tidak ada harta bendanya yang bisa diselamatkan, selain kantong kresek warna hijau berisi beberapa lembar baju miliknya. "Saya punya tas isi uang hape, sudah tidak tahu kemana, sama sekali tidak ada," ujarnya.

Dua hari pasca banjir bandang, Harlinda masih putus kontak dengan saudara dan anaknya yang berada di Palu dikarenakan telepon seluler yang dimiliki juga ikut hanyut bersama harta benda lainnya. Ditambah kehilangan beberapa sanak keluarganya yang belum diketahui keberadaannya hingga saat ini.

"Saya punya keluarga yang tinggal dekat rumah sampai saat ini belum ketemu. Saya punya anak di Palu, tapi tidak bisa komunikasi sampai sekarang karena tidak ada hape yang bisa dipakai," katanya sambil sesekali menyeka air mata.

Andi mendampingi Harlinda saat menyusuri rumahnya. Andi berharap semoga bencana banjir ini segera teratasi, dan Harlinda serta korban selamat lainnya bisa memberi kabar kepada sanak keluarganya.

"Semoga banjir ini segera teratasi, dan semoga ibu Harlinda dan korban selamat lainnya bisa kembali menemukan keluarganya dan bisa memberi kabar bahwa mereka selamat," harapnya.

Bantuan Pemerintah

Kementerian Sosial memberi bantuan bagi warga meninggal dunia akibat banjir bandang di Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Menteri Sosial, Juliari P Batubara menjelaskan semua korban banjir bandang harus tertangani termasuk korban yang meninggal dunia. Untuk itu, semua ahli waris korban meninggal dunia mendapatkan santunan masing – masing sebesar Rp 15 juta.

“Semua ahli waris korban akan mendapatkan santunan sebesar Rp 15 juta. Data sementara yang meninggal dunia yang telah diketemukan sebanyak 23 orang,” kata Mensos Juliari P Batubara dalam siaran persnya, hari ini, Kamis (16/7/2020).

Untuk mempercepat proses pemberian santunan, Juliari meminta pemerintah daerah secepatnya mendata, memverifikasi dan melalukan validasi ahli waris.

“Verifikasi dan validasi dari pemerintah setempat, kalau dinyatakan _clear, confirm_ ada suratnya, kita kasih, itu prosesnya cepat sekali lah,” tambah Mantan ketua IMI dua periode ini.

Rencananya santunan akan diberikan langsung Mensos, Juliari P Barubara, Jum’at (17 Juli 2020).

Selain memberikan santunan, Kemensos juga memberikan bantuan berupa logistik dan makanan kepada para pengungsi.

Menurut Ari, Kemensos sudah menyetok bantuan tambahan untuk korban banjir khususnya untuk anak-anak. Dia mengatakan, pengungsi anak – anak membutuhkan asupan khusus dan beda dengan orang dewasa.

“Popok, selimut, lengkap ada kasur, yang paling penting sekarang ada makanan juga, kalau baju itu kan orang masih bisa survive, bajunya itu-itu saja,” kata Juliari.

Jumlah bantuan yang disalurkan kepada korban banjir di Masamba senilai lebih dari 2 milyar rupiah yang terdiri dari bantuan 64.4 juta rupiah yang telah tersedia sejak tanggal 25 Juni. Bantuan tambahan senilai 70,5 juta rupiah pada tanggal 14 Juli 2020.  Santunan kematian untuk 23 orang senilai 345 juta rupiah Bantuan Perlengkapan kebersihan senilai 500 juta rupiah dan bantuan logistik tanggap darurat yang akan diberikan cash senilai 1,02 milyar rupiah.

Seperti diketahui, bencana banjir besar telah menghantam wilayah Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulses pada Senin, 13 Juli 2020, sekitar pukul 20.00 WITA itu telah menyebabkan ribuan warga terdampak.

BPBD setempat mencatat, Rabu sore kemarin (15/7), pascabanjir sebanyak 156 KK (655 jiwa) mengungsi dan 4.202 KK (15.994 jiwa) terdampak.

Sedangkan kerugian material tercatat 4.930 unit rumah terendam, 10 unit rumah hanyut, 213 unit rumah tertimbun pasir bercampur lumpur, 1 Kantor koramil 1403-11 terendam air dan lumpur ketinggian 1 meter, jembatan antar desa terputus dan jalan lintas provinsi tertimbun lumpur setinggi 1 hingga 4 m.

BPBD Kabupaten Luwu Utara dan instansi terkait telah melakukan upaya penanganan darurat, seperti evakuasi dan pencarian korban, kaji cepat kebutuhan, penanganan penyintas dan operasional pos komando.

Di samping itu, alat berat berupa 4 unit eksavator dikerahkan untuk membersihkan lumpur di Kecamatan Masamba, dan 6 unit di Kecamatan Baebunta.

Banjir bandang disebabkan hujan dengan intensitas tinggi sejak dua hari terakhir sebelum bencana.

Lalu menyebabkan Sungai Rongkong, Sungai Meli dan Sungai Masamba meluap hingga terjadi banjir tanah longsor di beberapa desa dalam wilayah kabupaten itu membuat pemukiman penduduk, lahan pertanian dan fasilitas umum serta fasilitas sosial terendam banjir disertai lumpur.

Tidak hanya lumpur yang merendam rumah warga dan pusat perekonomian kota, batang pohon dan kayu diduga dari pembalakan hutan secara ilegal juga ikut masuk ke pemukiman warga hingga menutup permukaan air di sungai setempat.

Tim SAR gabungan hingga kini masih berupaya untuk menemukan korban yang belum ditemukan.

Tim melakukan evakuasi sehari setelah bencana terjadi. Proses pencarian korban lainnya sempat ditunda semalam karena kondisi medan ke lokasi cukup sulit dijangkau.

Basarnas Makassar membagi tim menjadi kelompok kecil untuk memudahkan proses pencarian.

Sebagiannya ditugaskan membantu tim SAR gabungan lainnya yang untuk mengidentifikasi korban.

 

Herry Barus Lihat semua artikel →