Kondisi Jenuh Beli, IHSG Diprediksi Masih Alami Profit Taking

Oleh : Abraham Sihombing | Jumat, 07 April 2017 - 09:17 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan akan kembali mengalami aksi ambil untung (profit taking) pada perdagangan Jumat (07/04/2017) karena kondisi pasar saat ini masih dalam fase jenuh beli (overbought) setelah mengalami rally kenaikan jangka pendek.

“Kenaikan IHSG dalam beberapa hari terakhir ini sudah masuk ke dalam area jenuh beli, sehingga para pelaku pasar mewaspadai aksi profit taking dan konsolidasi minor untuk memperkuat titik support di kisaran 5.600-5.550,” papar Yuganur Wijanarko, analis senior PT KGI Sekuritas Indonesia, Jumat (07/04/2017).

Yuganur mengemukakan, sungguh bijaksana jika pelaku pasar menunggu di level bawah daripada mengejar reli secara agresif. “Saya optimistis, IHSG akan melanjutkan kenaikan berikutnya ke titik resistensi psikologis 5.700,” ujar Yuganur.

Yuganur berpendapat, potensi penurunan IHSG akibat aksi profit taking hari ini dapat dimanfaatkan oleh para pelaku pasar untuk mengakumulasi saham-saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

Secara teknikal, BMRI saat ini sedang mengalami perbaikan harga dalam jangka pendek dan menengah sehingga membuat saham plat merah ini cukup menarik diakumulasi. Dengan mengamati proyeksi kinerja 2017, maka harga BMRI diperkirakan bakal menembus Rp12.800 per unit.

Perbaikan harga dalam jangka pendek dan menengah juga dialami oleh TLKM dan WIKA. Karena itu, harga TLKM berpotensi mencapai Rp4.375-4.475 per unit dan WIKA diperkirakan dapat menembus kisaran harga antara Rp2.425-2.575 per unit.

Sementara itu, harga komoditas global yang berada di level terendah sejak 10 tahun terakir ini serta valuasi sektor komoditas yang cukup murah akan membuat LSIP menjadi menarik untuk dikoleksi pelaku pasar. Karena itu, saham produsen minyak sawit mentah (crude palm oil) ini diperkirakan dapat menembus kisaran harga Rp1.535-1.575 per unit. (Abraham Sihombing)

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →