Curhat Pengusaha di Tengah Pandemi: Ekonomi Melambat, Dunia Usaha Mulai Tumbang
INDUSTRY.co.id - Bekasi - Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) membuat pelaku usaha mulai mengalami perlambatan ekonomi. Bahkan, tak sedikit pelaku usaha yang mulai bertumbangan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Bekasi, Azmi Robbani.
Menurutnya, hampir semua jenis usaha mengalami penurunan, mulai dari perusahaan besar, industri, UMKM, semuanya mengalami penurunan.
"Saya banyak terima laporan dari teman-teman pelaku usaha, banyak hal yang terjadi pada mereka seperti merumahkan pegawai dengan work from home, mengurangi jam kerja, mengurangi gaji karyawan, sampai ada yang tutup karena sosial distancing," kata Azmi, kemarin
Meski mengalami penurunan, ia menyebut hingga kini belum ada anggotanya yang berhimpun gulung tikar. Hanya saja, untuk mengakali berkurangnya pemasukan maka banyak pengusaha yang mengalihkan jenis usahanya.
"Kalau gulung tikar di teman-teman memang belum ada. Kita di Hipmi sering diskusi online untuk saling support. Dari situ muncul banyak ide, dan nilai positif dibangun terus. Kita saling support saling beli produk, promosinya juga kita saling bantu posting jualan sesama rekan kita," bebernya.
"Untuk mengakali gulung tikar, kita mulai melakukan penjualan digital. Digitalisasi penting karena semua jualan lewat online, jadi yang belum mahir belajar sama yang expert. Dengan kita sharing ketemu peluang-peluang usaha lain, untuk mengakali kebangkrutan maka banyak yang beralih, misalnya travel itu kan mau gak mau tutup total, dari sektor pariwisata, restoran juga sama. Jadi tidak sedikit yang beralih jenis usaha," tambah Azmi.
Disisi lain, pemerintah yang memberikan insentif dan stimulus ekonomi kepada masyarakat, dunia usaha, dan pasar keuangan. Hingga kini pihak Hipmi belum merasakan stimulus tersebut.
"Kalau secara langsung dari kita belum merasakan stimulus ekonomi, seperti ada keringanan cicilan, pajak dan lainnya. Kita lihat sosialisasinya juga belum terlalu optimal ke daerah. Penerapan dan realisasinya juga masih sulit. Seperti keringanan cicilan juga itu nggak dikawal sama OJK, jadi itu dikembalikan kepada perbankan atau leasing. Pemerintah harus perbaiki sistem tersebut agar stimulus itu efektif," ungkapnya.
Ditambahkan lagi, hingga kini sebagai pelaku usaha pihaknya juga belum pernah diajak bicara oleh pemerintah daerah untuk menyelamatkan dunia usaha. Sehingga ia berharap ada perhatian dari pemerintah daerah agar dunia usaha selamat dari pandemi ini.
"Kita juga belum diajak komunikasi dengan pemda, itu harapan kita dari komunitas usaha diajak komunikasi, ini masalah UKM UMKM, ini ekonomi penting juga. Karena bahaya juga kalau efeknya sampai krisis ekonomi. Kalau kita diundang sebagai pelaku usaha baik itu Kadin, Apindo maupun Hipmi mungkin bisa ada solusi yang lebih besar dan menyeluruh," paparnya.
Akibat pandemi ini, beber Azmi, dari sekitar 60 pengusaha muda yang tergabung dalam Hipmi ini, rata-rata diperkirakan mengalami penurunan pendapatan lebih dari 50 persen. Jika tidak mendapatkan stimulus ekonomi, ia menduga dunia usaha hanya dapat bertahan hingga 3 bulan mendatang.
"Kalau yang mampu bertahan saya belum survei di hipmi, namun diprediksi kurang lebih 3 bulan kedepan. Untuk itu saya juga berharap agar penerapan PSBB bisa berjalan efektif dan diperketat agar roda perekonomian dapat berjalan kembali. Saya lihat sekarang penerapan PSBB gak efektif karena masih banyak warga yang berkerumun di luar," tandas Azmi.