Ironis, Industri Makanan Gagal Panen di Gulung Corona

Oleh : Ridwan | Kamis, 30 April 2020 - 11:30 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengakui telah terjadi penurunan di sektor makanan dam nimuman (mamin) di masa pendemi Covid-19.

"Harus diakui memang terjadi penurunan cukup signifikan. Secara umum penurunan terjadi karena permintaan pasar yang menurun," kata Adhi di Jakarta (30/4/2020).

Menurutnya, penurunan sudah mulai dirasakan para anggotanya sejak pertengahan bulan Maret 2020. "Ya, terutama setelah tanggal 20-an Maret banyak sekali penurunan," jelasnya.

Dijelaskan Adhi, banyak kalangan menilai kebijakan bekerja dari rumah (WFH) dapat meningkatkan konsumsi masyarakat. Namun, berdasarkan data survei internal Gapmmi hasilnya bertolak belakang. 

Mereka merinci ada beberapa faktor yang menjadi penyebab menurunnya konsumsi masyarakat.

Di antaranya kegiatan pariwisata yang berhenti, pendapatan masyarakat yang menurun drastis, rantai pasok atau supply chain yang terganggu. Termasuk koordinasi pemerintah pusat dan daerah yang terkadang tidak searah, sehingga menghabiskan energi dan sumber daya, penanganan masalah pokok pun tidak fokus.

Namun, ada sejumlah fakta menarik lainnya, yakni beberapa produk pangan tertentu meningkat, seperti susu, minyak goreng, bumbu hingga tepung-tepungan. Sedangkan konsumsi pangan ringan seperti snack tiba-tiba menurun drastis.

"FMCG (fast-moving consumer goods) alias makanan dan minuman lebih besar di pasar tradisional, kira-kira 70%. Sekitar 26-27% di pasar modern atau supermarket. Sisanya 1-2% di pasar online. Peningkatan kebanyakan terjadi di pasar modern, namun di pasar tradisional banyak penurunan. karena kegiatan toko-toko grosir tutup. Sehingga besarnya rata-rata turun," papar Adhi.

Disisi lain, Adhi menyebut bahwa periode Puasa dan Lebaran kali ini memang sangat ironis. Menurutnya, sektor makanan yang biasa panen saat Ramadhan dan Lebaran, kali ini justru sebaliknya.

"Penurunan konsumsi di masyarakat berbanding lurus dengan kapasitas produksi dari banyak produsen. Pun dengan penurunan penjualan karena banyaknya pembatalan order," ungkapnya.

Oleh karena itu, Adhi berharap pandemi Covid-19 ini segera bisa teratasi agar para pengusaha khususnya sektor makanan dan minuman kembali bergairah menggerakkan roda ekonomi nasional.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →