Dua Perusahaan Raksasa Farmasi di Dunia Kolaborasi Atasi Covid-19

Oleh : Ridwan | Kamis, 16 April 2020 - 15:30 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Dua raksasa perusahaan farmasi di dunia berkolaborasi untuk pertama kalinya mengembangkan vaksin baru untuk mengatasi COVID-19. Keduanya adalah GlaxoSmithKline (GSK) dan Sanofi. 

CEO GSK Emma Walmsley mengatakan pandemi penyakit virus corona 2019 memerlukan cara baru dalam melakukan bisnis. Diakuinya dalam sebuah konferensi video kalau pandemi yang sedang terjadi memberi ancaman kepada kesehatan global yang tak terduga. 

"Kami bergabung dengan Sanofi dalam kolaborasi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menghadapinya," kata Walmsley dikutip dari laman NPR, Selasa, 14 April 2020. 

Menurutnya, kedua perusahaan menyatukan teknologinya dengan skala yang signifikan. Tujuannya,  mengembangkan vaksin COVID-19 yang dilengkapi dengan senyawa yang meningkatkan respons kekebalan tubuh seseorang terhadap suatu antigen atau vaksin (adjuvanted). 

Dalam kemitraan, GSK akan menyediakan senyawa adjuvanted itu. Sedang Sanofi menyediakan komponen protein spesifik dari virus corona yang akan membangkitkan respons antibodi yang sesuai.

GSK berharap kemitraan tersebut akan mengurangi waktu pengembangan vaksin secara signifikan. Karena, dalam keadaan normal, perlu satu tahun pengembangan untuk membawa vaksin baru ke pasar.

Walmsley menerangkan, uji coba rencananya akan dimulai dalam beberapa bulan ke depan. "Dan jika kita berhasil, dengan tunduk pada pertimbangan peraturan, kami bertujuan untuk menyelesaikan pengembangan yang diperlukan untuk membuat vaksin tersedia pada paruh kedua 2021," kata Walmsley.

Sebelunya, perusahaan farmasi dunia Johnson & Johnson (J&J) juga memberikan pembaruan tentang rencana pengambangan vaksin. Chief Scientific Officer J&J, Paul Stoffels, mengatakan perusahaan telah mengidentifikasi satu calon dan dua kandidat vaksin pengganti yang rencananya akan disiapkan untuk diproduksi.

"Tujuan kami adalah untuk dapat menghasilkan 1 miliar dosis vaksin secara global," kata Stoffels. 

Dia dia berharap memiliki hasil data keamanan pada kandidat vaksin pertama pada akhir tahun ini. "Ini bisa memungkinkan ketersediaan vaksin di bawah otorisasi penggunaan darurat pada 2021," terangnya. (Tempo)

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →