Saatnya Mendayung dan Bentangkan Layar
INDUSTRY.co.id - Kabar buruk telah sama-sama kita terima. Seolah datang tiba-tiba. Seiring datangnya corona.
Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2020 ini bakal terpuruk hingga minus 0.4 persen. Itu gambaran makronya.
Di level industri, para pelaku usaha mulai menjerit. Badai PHK segera menjelang. Majalah Tempo menulis jutaan tenaga kerja bakal kehilangan pekerjaan.
Tak ada gunanya meratapi. Semua telah terjadi.
Dalam situasi yang masih adem ayem sudah saya sampaikan. Pada akhir 2017. Tentang kabar buruk yang hari ini sama-sama kita rasakan. Setidaknya tiga kali saya telah menulis artikel di media ini.
Pada kesempatan tersebut saya ajukan rumus fundamantal untuk memberkuat mental: kabar buruk = kabar baik.
Seorang kawan pengusaha bimbingan belajar (Bimbel) untuk anak mengeluh. Lembaga Bimbel bernama Anak Hebat (AHe). Isolasi sosial melumpuhkan kegiatan usahanya. Ia memiliki 2.500 jaringan Bimbel di 32 provinsi dengan 10.000 pengajar. Namanya, Rakhmat Agung.
Seperti Agung, juga jutaan pelaku usaha mendadak mengalami jetlag. Seperti orang baru terbangun dari tidur mendapati lantai rumahnya tergenang banjir.
"Apa yang harus saya lakukan?", Agung bertanya dalam nada risau.
Itu bukan pertanyaan Agung semata. Pertanyaan sejuta umat. Dari pemimpin negara sampai lapisan masyarakat paling bawah.
Dari pertanyaan yang sama, jawabannya pun pasti sama. Memang tidak akan semudah seperti saya menuliskannya.
Setiap entitas apa pun bentuk dan besaran organisasinya, adalah kapal. Dan semua orang, tak terkecuali, telah memiliki kapalnya masing-masing. Mereka adalah “para Nuh” bagi diri mereka dan lingkungan sekelilingnya.
Nah, di dalam “kapal Nuh” itu tentu telah terhimpun aset. Aset yang dikumpulkan dalam perjalanan aktifitas kehidupan selama ini.
Di dalam kondisi keterasingan sosial saat ini, aset terpenting bukanlah benda. Tetapi lingkungan sosial yang telah dimasuki dan dibangun selama ini. Walau sama-sama terpisah secara fisik, namun hati, jiwa, dan pikiran tetaplah bisa disatukan.
Itulah apa yang kita sebut sebagai jejaring sosial. Yang terbentuk secara alami di setiap diri masing-masing orang. Itulah aset satu-satunya yang bisa didayagunakan.
Secara, kita adalah bangsa yang sejak dari sononya, adalah bangsa yang gemar bergotong royong. Bahu-membahu. Saling membantu dan tolong menolong.
Saya yakin, tidak ada bangsa sekuat kita dalam hal ini. Sudah sama-sama kita rasakan bagaimana pengalaman bangsa ini dalam menghadapi aneka bencana.
Sejatinya semua kapal saat ini sudah siap. Hanya saja, mungkin kebanyakan masih bersandar di tepian menyaksilan gelombang dari tepian dermaga. Meskipun, banyak juga yang sudah siap menghadapi segala kemungkinan.
Maka, pertanyaan di atas hanya butuh satu jawaban untuk semua orang:
Saatnya mendayung. bentangkan layar. Fokuskan tujuan. Arahkan kemudi menyisir riak-riak gelombang.
Faidzaa faroghta fanshob.
Maka, apabila kalian telah ter-lockdown, tetaplah bergerak.
Penulis adalah Anab Afifi CEO Bostonprice Asia