Fluktuasi IHSG Masih Cukup Tinggi

Oleh : Wiyanto | Kamis, 12 Maret 2020 - 08:02 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - IHSG secara analisa teknikal bergerak terkonsolidasi seakan kembali menguji support 5172 pada fibonacci 127.2%. Indikator Stochastic dan RSI tiba pada area oversold namun belum ada indikasi kuat membentuk pola golden-cross dan bullish reversal momentum.

"Sehingga diperkirakan tingkat fluktuasi IHSG masih cukup tinggi dengan kemungkinan penguatan pada perdagangan selanjutnya pada rentang 5150-5288," kata analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Kamis (12/3/2020).

Saham-saham yang telah dapat diperhatikan secara teknikal diantaranya; ADHI, AKRA, CTRA, HMSP, KLBF, LPPF, MEDC, PWON, TBIG, WIKA, WSKT.

IHSG (-1.28%) turun sebesar 66.72 poin kelevel 5154.11 dengan indeks sektor property konstruksi (-3.59%) dan Infastructure (-3.19%) memimpin pelemahan. IHSG tertekan setelah indeks berjangka AS mayoritas terkoreksi dan investor menanti aksi realisasi buyback saham-saham BUMN.

Mayoritas saham konstruksi Autorejections karena pelemahan harga saham mendekati 10% yang merupakan batas bawah baru dari Bursa Efek Indonesia saat ini. saham WIKA (-9.68%), WSKT (-9.41%) dan ADHI (-7.35%) memimpin pelemahan disektor property konstruksi dimana secara valuasi ke-3 saham tersebut sudah cukup murah dengan Price to Sales per Share ratio yang dibawah jauh dari rata-rata 5 tahun terakhir. Investor asing melakukan aksi beli sebesar 172.07 miliar rupiah.

Bursa Eropa membuka perdagangan mayoritas menguat dengan indeks Eurostoxx (+1.83%), FTSE (+1.15%) dan DAX (+1.53%) naik diatas sepersen. Investor merefleksikan kebijakan moneter Bank of England dalam memangkas suku bunga sebesar 50bps seminggu setelah The Fed melakukan hal serupa. Eropean Central Bank akan mengadakan pertemuan kebijakan pada hari kamis diperkirakan akan mengikuti gelombang pelonggaran dari bank sentral diseluruh dunia. Sentimen selanjutnya investor akan terfokus pada data inflasi di AS serta realisasi aksi buyback saham-saham tanpa RUPS oleh emiten di dalam negeri.

Wiyanto

Redaktur

Wiyanto Lulusan UIN Syarif Hidayatullah dan kini menempuh jenjang Megister Ekonomi Islam di Paramadina. Meliput sektor keuangan dan Pertanian serta sektor riil. Tulisan membantu masyarakat dan pemerintah dan investor memahami peta ekonomi secara menyeluruh

Lihat semua artikel →