Dua Tahun Stagnan, Industri Kaca Lembaran dan Pengaman Tunggu Keajaiban

Oleh : Ridwan | Rabu, 26 Februari 2020 - 12:35 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta -  Industri kaca lembaran dan pengaman dalam negeri terus mengalami penurunan. Terlebih dalam dua tahun belakangan, pertumbuhan industri ini jalan ditempat (stagnan).

"Bisa dibilang, industri kaca lembaran dan pengaman stagnan atau jalan ditempat," kata Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman Indonesia (AKLP) Yustinus Gunawan kepada Industry.co.id di Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Dijelaskan Yustinus, penurunan industri kaca lembaran dan pengaman di Tanah Air tidak lain disebabkan oleh mahalnya harga gas industri di dalam negeri.

Selain itu, menurunnya permintaan domestik juga mempengaruhi stagnan-nya industri kaca dan lembaran di dalam negeri. Faktor lainnya yang juga cukup mengerogoti industri kaca dalam negeri yaitu membanjirnya produk kaca impor dengan harga murah.

Untuk menggairahkan industri kaca dan lembaran dalam negeri, lanjut Yustinus, pihaknya masih menunggu keputusan pemerintah untuk menerapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomo 40 Tahun 2016 terkait penurunan harga gas untuk industri sebesar US$ 6 per MMBTU.

Menurutnya, penurunan harga gas industri ke level US$ 6 per mmbtu bisa mendorong ekspansi penambahan kapasitas produksi hingga dua kali lipat dalam jangka panjang, yakni hingga 2035 mendatang.

Saat ini, total kapasitas terpasang seluruh anggota aktif maupun yang tengah menghentikan kegiatan produksi tercatat sebesar 1,6 juta per tahunnya. Dengan adanya potensi kenaikan sebesar dua kali lipat, maka jumlah kapasitas terpasang tersebut bisa naik menjadi sebesar 3,2 juta ton pada tahun 2035 nanti.

Menurut Yustinus, penurunan harga gas industri ke level US$ 6 per mmbtu bisa memberikan potensi penghematan biaya produksi sebesar 8%-10%.

Maklum saja, biaya gas dalam struktur biaya produksi industri kaca lembaran dan pengaman memiliki porsi yang tidak sedikit, yakni sekitar 25%. Sementara itu, kebutuhan gas AKLP adalah sebesar 38 billion British thermal unit per day (bbtud).

Lebih lanjut, Yustinus mengungkapkan bahwa seluruh anggota saat ini sedang melakukan efisiensi. Selain itu, strategi lainnya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan eskpor kaca lembaran bernilai tambah tinggi yaitu kaca lembaran low-E.

"Strategi-strategi ini harus kita lakukan guna memelihara bisnis agar bisa tetap berjalan," ungkap Yustinus.

Yustinus juga mengatakan bahwa seluruh anggota saat ini tengah menunggu hasil draft final Omnibus Law khususnya yang terkait dengan RUU Ciptak Karya.

"Kita sama-sama menunggu hasil final dari RUU Cipta Karya. Semoga Omnibis Law benar-benar bisa menggairahkan industri nasional khususnya kaca lembaran dan pengaman," tutup Yustinus.