Ayah Milenial Lebih Terlibat dalam Pengasuhan Anak

Oleh : Andi Mardana | Kamis, 25 Juli 2019 - 20:17 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Setiap minggunya, lebih dari 2,5 juta generasi alfa lahir. Diperkirakan jumlah mereka akan mencapai 2 juta di tahun 2025. Anak-anak generasi alfa adalah anak yang terlahir antara tahun 2010 hingga 2024.

Artinya usia tertua anak generasi alfa saat ini masih 9 tahun. Menurut Mark McCrindle, seorang peneliti sosial, anak-anak generasi alfa merupakan generasi milenial yang sesungguhnya karena mereka semua terlahir di abad ke-21.

Mark mendefinisikan bahwa generasi alfa merupakan generasi yang paling banyak mengenyam pendidikan formal. Sedangkan psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S. Psi, kepada GueSehat, menyatakan, karakteristik utama generasi alfa adalah lahir di era teknologi digital.

“Jadi mereka terlahir langsung terpapar teknologi dan tidak terperangah lagi dengan kecanggihan smartphone, augmented reality (AR), virtual reality, dan lain-lain. Kecanggihan teknologi dianggap sebagai bagian sehari-hari,” jelas Vera di Jakarta baru-baru ini.

Pola Pengasuhan Orangtua anak generasi alfa kebanyakan berasal dari generasi Y atau generasi milenial. Mereka pun sudah sangat familiar dengan teknologi. Otomatis mereka lebih mudah mencari informasi seputar pola asuh maupun tumbuh kembang anak.

Guesehat melakukan survei tentang pola asuh orangtua yang memiliki anak usia 0-9 tahun dari seluruh Indonesia. Ada 411 ibu yang berpartisipasi. Dapat ditebak bahwa sebagian besar (65,7%) ibu mengaku mendapatkan informasi seputar pola asuh dan tumbuh kembang anak melalui media dan internet.

Selebihnya (22,1%) dari keluarga, serta 5,1% dari dokter anak. Hasil survei juga menunjukkan, para orangtua dengan anak generasi alfa mengaku masalah seputar tumbuh kembang dan pola asuh anak menduduki posisi kedua sebagai tantangan terberat mereka.

"Di satu sisi mereka sudah sangat berlimpah informasi, namun menjadi lebih cemas dengan masalah tumbuh kembang anak," kata Vera.

Dilihat dari pola pengasuhan anak, orangtua milenial sudah meninggalkan gaya pengasuhan otoriter. Mereka cenderung memberikan lebih banyak keleluasaan atau kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan diri serta mencoba sesuatu yang baru.

Gaya pengasuhan mereka, ujar Vera, cenderung bergaya drone parenting. "Mereka lebih banyak mengawasi dari jauh, sehingga anak bebas menjadi diri sendiri. Anak juga lebih banyak diberikan aktivitas tak terstruktur," ujarnya.

Menariknya, peran ayah saat ini jauh lebih besar dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Kalau kita bicara generasi baby boomers atau generasi X, keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak belum terlalu banyak.

"Berbeda dengan generasi-generasi di bawahnya, yakni generasi Y dan Z. Peran ayah sudah lebih besar dibandingkan sebelumnya," kali ini diungkapkan psikolog Ajeng Raviando.

Pernyataan ini juga diperkuat dari hasil survei Guesehat. Sebanyak 53% ibu mengungkapkan bahwa suami mereka selalu mencari tahu seputar pola asuh dan tumbuh kembang anak. Sebanyak 44,8% menjawab kadang-kadang dan hanya 4% yang menjawab suami mereka tidak terlibat aktif.

Kemudian terkait peran ayah dalam mengasuh anak, 57,5% ibu mengaku suami mereka sangat aktif berperan dan 32,4% ibu mengaku suami mereka lebih sering menemani anak bermain. Sedangkan, 4,4% ibu mengaku suami mereka memenuhi kebutuhan material anak saja.

Menurut Vera, ayah lebih banyak terlibat dan mau tahu tentang perkembangan anak-anak mereka. Misalnya, ayah lebih banyak datang ke seminar tentang perkembangan anak atau lebih sering datang ke sekolah untuk memenuhi kebutuhan anak.

Ditambahkan oleh Ajeng, cara bekerja di zaman dulu dengan zaman sekarang berbeda. Kalau dulu ayah harus ke kantor dari pagi hingga malam, sekarang mereka lebih fleksibel dalam bekerja.

"Inilah yang membuat keterlibatan orang tua dengan anak menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya, sehingga terjadi perubahan interaksi maupun emotional bonding dengan anak," pungkas Ajeng.