Standarisasi Vs Innovation Jawab Tantangan Era Industri 4.0

Oleh : Ridwan | Jumat, 22 Februari 2019 - 12:55 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Cikarang, President Executive Club bekerjasama dengan President Research Center dan President Development Center menggelar acara seminar bertajuk "Standarization vs Innovation: Paradoks dan Tantangan pada Era Industry 4.0".

Acara yang dihelat di President Executive Club tersebut, turut dihadiri oleh Dr. Ir. Bambang Setiadi selaku Ketua Dewan Riset Nasional sebagai narasumber utama.

Dalam paparannya, Bambang menegaskan bahwa standarisasi dan inovasi harus saling mendukung.

Menurutnya, keberadaan standarisasi dapat menyebabkan terjadinya inovasi, membantu mempromosikan produk bermutu, menuju pasar global, dan sebagai alat yang paling baik untuk menyakinkan.

Menjawab pertanyaan salah satu peserta mengenai Standar Nasional Indonesia (SNI), Bambang menyampaikan bahwa SNI itu dibuat untuk kita menjadi kuat. 

"SNI itu itu kita buat untuk kita menjadi kuat. Contohnya standar mengenai ban, standar ban Indonesia itu harus lebih kuat daripada Eropa. Mengapa? Karena di Indonesia itu jalannya itu panas, jadi kekuatan bannya harus lebih tinggi daripada di Eropa," terangnya.

Sementara B.A. Hadisantoso selaku perwakilan dari PEC menyampaikan bahwa acara ini merupakan seminar mengenai pendalaman pemahaman lebih luas tentang cara memanfaatkan research and development guna menghasilkan inovasi produk dengan standarisasi berskala internasional yang sesuai dengan kebutuhan pasar di era industri 4.0 serta networking lunch bersama para pelaku industri lainnya.

PEC adalah sebuah club dimana para member merupakan pemilik atau pejabat tertinggi di perusahaannya masing-masing. PEC melakukan event secara berkala didalam menguatkan networking ABG (Academic, Business, Government) sehingga hasil dari kebersamaan ini bisa memberikan manfaat lebih banyak dan lebih luas lagi kepada member-member PEC di dalam kawasan maupun di luar kawasan Jababeka.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →