Kadin Harap Pengendalian Impor Tak Kirim Sinyal Proteksionisme

Oleh : Ridwan | Sabtu, 15 September 2018 - 10:30 WIB · 1 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta- Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Roeslani, berharap kebijakan pengendalian impor barang konsumsi melalui penyesuaian tarif pajak penghasilan (PPh) tidak mengirim sinyal proteksionisme kepada dunia luar.

"Kalau barang-barang yang dikenakannya adalah bahan baku mentah (raw material) untuk produksi atau untuk ekspor, menyebabkan daya saing kita menjadi turun," kata Rosan di Jakarta, Jumat (13/9/2018)

Pemerintah menerapkan kebijakan pengendalian impor barang konsumsi melalui penyesuaian tarif PPh impor terhadap 1.147 pos tarif sebagai strategi mengatasi defisit neraca transaksi berjalan.

Rosan mengatakan bahwa Kadin Indonesia akan melakukan kajian terhadap 1.147 pos tarif tersebut sebagai bentuk masukan kepada pemerintah.

Ia menaksir ada sekitar 200 item komoditas yang seharusnya tidak masuk sebagai barang yang terkena peningkatan tarif PPh impor karena termasuk bahan dasar maupun belum diproduksi dalam negeri.

"PPh impor kalau bahan baku untuk produksi dan ekspor perlu hati-hati. Dampaknya seberapa besar sih terhadap penyumbang defisit, menurut kami tidak signifikan," kata Rosan.

Ia juga berharap kebijakan yang sudah diteken pemerintah tersebut berkesinambungan dan tidak bersifat jangka pendek sehingga tidak ada anggapan bahwa pemerintah inkonsisten.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →