Pelindo IV Direct Call Dukung Konektivitas Indonesia Timur

Oleh : Hariyanto | Sabtu, 05 Mei 2018 - 11:30 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta- PT Pelindo IV (Persero) mendukung pembangunan konektivitas laut di kawasan timur Indonesia dengan implementasi "direct call" dan "direct export" ke luar negeri melalui kerja sama dengan perusahaan pelayaran Hong Kong SITC.

Direktur Fasilitas dan Peralatan Pelabuhan PT Pelindo IV Farid Padang dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (4/5/2018) mengatakan "direct call" dan "direct export" telah intens dilakukan perseroan melalui beberapa pelabuhan besar di kawasan timur di antaranya Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Pantoloan, Pelabuhan Ambon, Pelabuhan Balikpapan dan Pelabuhan Jayapura.

"'Direct call' dan 'direct export' langsung manfaatnya banyak. Kedua kegiatan itu harus ada di Indonesia Timur karena selama ini selalu terpusat di Jakarta dan Surabaya. Sehingga perekonomian daerah di Indonesia Timur bisa meningkat hingga memberi kesejahteraan bagi masyarakat luas," katanya.

Farid mencontohkan sebagaimana yang terjadi di Maluku yang merupakan lumbung ikan di mana sebanyak 30 persen ikan yang diekspor Indonesia berasal dari wilayah tersebut.

Namun kekayaan laut Maluku tidak bisa berkontribusi maksimal terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) karena ikan yang diambil dari laut Maluku dibawa terlebih dulu ke Surabaya atau Jakarta, baru kemudian masuk ke pasar ekspor.

"Jadi pajak ekspor tidak didapat oleh Pemda Maluku, melainkan oleh Pemda di mana proses eskpor dilakukan. Nah untuk itu, BUMN hadir berperan membantu pemerintah mewujudkan pemerataan," jelasnya.

Jika berkaca pada hasil implementasi International Direct Call di Makassar, Pelindo IV diklaim terbukti mampu mengurangi waktu ekspor ke China menjadi hanya 16 hari dari semula 24 hari.

Demikian pula ekspor ke Jepang turun menjadi 18 hari dari semula 28 hari. Sementara ke Korea menjadi 17 hari dari semula 26 hari.

Efisiensi waktu yang signifikan tersebut didapat karena dengan "direct call", maka tidak ada lagi proses "dwelling time" yang biasanya memakan waktu 5 hingga 9 hari.

Demikian pula biaya per kontainer yang berkurang signifikan, dari semula mencapai Rp4.095.600 per kontainer menjadi hanya Rp792.000 per kontainer.

Hal serupa, lanjut Farid, terjadi untuk "direct call" di Balikpapan di mana lama waktu ekspor ke Shanghai, China, terpangkas menjadi 9 hari dari semula mencapai 25 hingga 30 hari. Sementara biaya logistik pun bisa hemat sekitar 300 dolar AS hingga 500 dolar AS per kontainer.

"Daya saing produk pun akan meningkat, misalnya seperti ikan beku jauh lebih segar bila lewat jalur 'direct call' karena waktunya lebih singkat. Sehingga sampai di negara tujuan kualitas ikan masih bagus, harga pun tinggi. Tentunya ini akan memberikan dampak ganda bagi Kawasan Timur Indonesia (KTI)," pungkas Farid.