Inaplas: Pemerintah Tak Perlu Bingung Penurunan Harga Gas Industri US$ 2 Harusnya Bisa!

Oleh : Ridwan | Kamis, 25 Januari 2018 - 18:50 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Suhat Miyarso mengatakan, industri petrokimia menagih realisasi punurunan harga gas yang telah dijanjikan pemerintah sejak tahun 2015 lalu.

"Kita sangat prihatin karena seluruh anggota sangat menunggu kepastian dari pemerintah untuk menurunkan harga gas untuk industri yang kiat mencekik," ujar Suhat Miyarso kepada INDUSTRY.co.id di Kantor Pusat Kadin, Jakarta, Kamis (25/1/2018).

Ia menambahkan, saat ini industri petrokimia membeli gas industri antara US$ 9,18-9,45 per MMBtu Dengan harga gas tersebut membuat produk dalam negeri akan semakin mahal dan sulit untuk bersaing dengan produk impor.

"Kondisi ini yang dimanfaatkan oleh negara-negara lain seperti Tiongkok, Thailand dan Singapura untuk mengambil pasar domestik dikarenakan produk mereka yang relatif murah harganya," tegasnya.

Lebih lanjut, Suhat berharap ada koreksi dari pemerintah terkait perhitungan penurunan harga gas untuk industri. Menurutnya, masih banyak pos-pos yang disa dikurangi misalnya, dari rantai distribusi, biaya weelhead, serta tol fee.

"Saya rasa biaya-biaya itu bisa dikurangi. Kalau untuk mengurangi US$ 1-2 seharusnya bisa. Kita tidak minta sampai harga US$ 6 paling tidak ada pengurangan," tegas Suhat.

Selain itu, lanjut Suhat, dengan tingginya harga gas di Indonesia akan semakin menghambat investasi baru di sektor industri petrokimia. "Dengan kondisi ini akan sulit bagi Indonesia menarik investasi asing industri petrokimia," kata Suhat.

Terkait rencana pemerintah untuk menurunkan harga gas industri dengan pengurangan PNBP, Suhat mengapresiasi rencana tersebut. Menurutnya, kalau memang benar itu sangat bagus. Pada akhrinya pemerintah tidak akan rugi.

"Memang di depan berkurang, namun setelah jadi produk hilirnya akan bisa menambah pendapatan negara," katanya.

Suhat mencontohkan, seperti industri sarung tangan karet, keramik, dan kaca saat ini antara jalan atau tidak. Kalau harga gas turun mereka pasti akan berkembang, sehingga pemerintah bisa pungut pajak dari produk-produk yang sudah jadi.

"Jadi secara keseluruhan tidak akan rugi, meskipun penurunan harga gas industri harus mengurangi PBNP," imbuh Suhat.

Lebih lanjut, Suhat mengungkapkan, harga minyak dunia saat ini yang masih relatif rendah memberi keuntungan tersendiri bagi industri petrokimia nasional. "Dengan harga minyak dunia saat ini, industri petrokimia masih mempunyai margin yang cukup baik, tetapi kondisi ini tidak berjalan setiap waktu," ucapnya.

Selain itu, tambahnya, industri petrokimia saat ini juga menggunakan gas untuk bahan baku terutama di industri pupuk dan turunannya. "Untuk industri pupuk harga gas kita beli sebesar US$ 7 per MMBTU. Dengan harga itu sangat sulit bagi mereka untuk memproduksi pupuk dengan harga yang bisa bersaing dengan negara-negara lainnya," tambah Suhat.

Menurutnya, industri petrokimia bisa memanfaatkan gas sebagai bahan baku namun, butuh proses yang sangat panjang. "Untuk bisa dijadikan bahan baku industri petrokimia, harga gas yang sesuai antara US$ 3-3,5 per MMBTU, saat ini masih US$ 9 per MMBTU. Artinya, harga ini tidak memungkinkan industri petrokimia menggunakan gas sebagai bahan baku," imbuh Suhat.

Suhat berharap pemerintah bisa mengatur harga gas untuk industri, sehingga bisa sesuai dan menjadi bahan baku industri petrokimia.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →