Tahun ini, Waskita Beton Precast Bidik Kontrak Baru Rp11,5 Triliun

Oleh : Abraham Sihombing | Kamis, 18 Januari 2018 - 18:33 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kontrak baru PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) pada tahun ini ditargetkan mencapai Rp11,5 triliun pada 2018. Itu hanya lebih tinggi 4,44% dibandingkan dengan realisasi kontrak baru 2017 sebesar Rp11,03 triliun.

“Besarnya realisasi kontrak baru 2017 tersebut hanya sekitar 89,7% dari targetnya sebesar Rp12,3 triliun. Itu karena ada sejumlah proyek yang semula direncanakan diperoleh pada 2017, tetapi diundur hingga triwulan pertama 2018,” ujar Ratna Ningrum, Corporate Secretary WSBP, di Jakarta, baru-baru ini.

Ratna bilang, kontrak baru yang tertunda perolehannya itu adalah proyek jalan tol Probolinggi-Banyuwangi di Provinsi Jawa Timur dan proyek jembatan Penajam di Provinsi Kalimantan Timur.

“Sekitar 61% dari realisasi kontrak perseroan pada 2017 berasal dari Waskita Karya selaku perusahaan induk perseroan. Sisanya sekitar 39% berasal dari berbagai proyek eksternal,” tukas Ratna.

Ratna mengungkapkan, perolehan kontrak baru perseroan pada tahun ini tidak jauh beda dengan tahun lalu. Akan tetapi, manajemen WSBP akan berupaya meningkatkan porsi perolehan kontrak eksternal.

Disamping itu, Ratna juga mengemukakan pendapatan WSBP pada 2018 ini ditargetkan sebesar Rp9,7 triliun, atau lebih tinggi 22,78% dibandingkan dengan target pendapatan perseroan pada 2017 sebesar Rp7,9 triliun.

“Demikian pula labanya. Kami targetkan laba tahun ini sebesar Rp1,4 triliun, atau lebih tinggi 16,67% dibandingkan dengan target 2017 sebesar Rp1,2 triliun,” pungkas Ratna. (Abraham Sihombing)

 

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →