Sektor Manufaktur Masih Jadi Kontributor Terbesar Perekonomian Indonesia

Oleh : Abraham Sihombing | Rabu, 03 Januari 2018 - 16:19 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Sektor manufaktur masih merupakan kontributor terbesar bagi perekonomian nasional. Pasalnya, sektor tersebut hingga kini masih memberikan peningkatan nilai tambah bahan, penyerapan tenaga kerja lokal dan penerimaan devisa dari ekspor.

Demikian diungkapkan oleh Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian Republik Indonesia, di Jakarta, Rabu (03/01/2018).

“Peningkatan nilai tambah tersebut banyak dilakukan oleh industri berbasis pertanian dan pertambangan. Kedua industri tersebut telah menghasilkan berbagai produk hilir, yaitu turunan kelapa sawit dan baja antikarat (stainless steel),” papar Airlangga.

Sepanjang 2015-2017, total produk hilir kelapa sawit telah meningkat menjadi 154 produk dibandingkan pada 2014 sebanyak 126 produk.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan total tenaga kerja di sektor manufaktur tercatat sebanyak 17 juta orang pada 2017, atau naik sekitar 9,4% dibandingkan pada 2016 sebanyak 15,54 juta orang.

Pada 2017, industri makanan dan minuman menyerap 3,3 juta tenaga kerja, industri otomotif sebanyak 3 juta tenaga kerja, industri tekstil dan produk tekstil sebanyak 3 juta tenaga kerja, industri tekstil dan produk tekstil sebanyak 2,73 juta tenaga kerja serta industri furniture berbahan kayu dan rotan sebanyak 2,5 juta tenaga kerja.

“Itu menggambarkan adanya pengurangan pengangguran dan kemiskinan di Indonesia yang cukup signifikan selama kurun waktu tersebut. Karena itu Kemenperin akan terus menjalankan hilirisasi industri di sektor manufaktur,” tutur Airlangga.

Disamping itu, demikian Airlangga, enam subsektor manufaktur, yaitu sektor makanan dan minuman, farmasi, kimia, elektronika, otomotif dan industri baja diperkirakan bakal mampu mempercepat pertumbuhan sektor industri manufaktur pada 2018.

“Karena itu, target pertumbuhan subsektor manufaktur tersebut ditargetkan sebesar 5,67%. Target itu ditetapkan berdasarkan pencapaian kinerja pada 2017 yang dipastikan meningkat di atas pertumbuhan ekonomi nasional,” tukas Airlangga.

Per September 2017, pertumbuhan sektor industri dasar tercatat sebesar 10,6%, sektor industri makanan dan minuman sebesar 9,49% dan industri alat-alat transportasi sebesar 5,63%. (Abraham Sihombing)

 

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →