2018, Pendapatan Garuda Indonesia Ditargetkan Tumbuh 12%

Oleh : Abraham Sihombing | Selasa, 19 Desember 2017 - 09:36 WIB · 1 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Pendapatan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), maskapai penerbangan berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ditargetkan tumbuh 11-12% pada 2018. Akan tetapi, pertumbuhan itu bahkan dapat mencapai 15% pada tahun depan.

“Itu karena pertumbuhan tersebut bukan saja berasal dari pendapatan di bisnis maskapai, tetapi juga berasal dari pendapatan di bisnis kargo dan ancillary, yaitu penjualan barang dalam pesawat serta loyalty program bagi konsumen,” papar Pahala N. Mansury, Direktur Utama GIAA di Jakarta, Senin (18/12/2017).

Perseroan pada tahun ini menargetkan pendapatan US$32 miliar. Manajemen GIAA juga berniat untuk mengurangi kerugian hingga US$215 juta pada akhir 2017 ini. Jika target pendapatan tahun ini tercapai, maka pendapatan GIAA pada 2018 diperkiraan dapat mencapai antara US$35,52-36,80 miliar.

“Karena itu, kondisi perekonomian diharapkan dapat membaik pada tahun depan agar kami dapat mencapai target tersebut. Disamping itu, erupsi Gunung Agug juga diharapkan segera usai sehingga penerbangan ke Bali dapat segera kembali normal guna mendukung pencapaian target 2018 tersebut,” tutur Pahala.

Kendati demikian, Pahala menolak untuk menyebutkan target bottom line perseroan pada 2018. “Saya masih belum dapat menjelaskan kondisi bottom line perseroan, akan tetapi kami pada tahun depan akan mengoperasikan maskapainya secara break-even (impas-impas-red) saja,” pungkas Pahala. (Abraham Sihombing)

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →