Industri Kaca Lembaran Ngos-ngosan Bertahan dari Serbuan Impor

Oleh : Ridwan | Rabu, 22 November 2017 - 11:53 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta-Industri kaca nasional semakin khawatir dengan membanjirnya produk impor yang masuk ke Indonesia. Akibatnya, industri kaca dalam negeri saat ini sulit untuk bersaing.

Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP), Yustinus Gunawan mengatakan, membanjirnya produk impor ke Indonesia membuat produsen kaca dalam negeri semakin terhimpit, sulit untuk berkembang dan bersaing dengan produk impor.

"Industri kaca lembaran dan pengaman saat ini ngos-ngosan bertahan sebisanya dari serbuan produk impor," ujar Yustinus kepada INDUSTRY.co.id di Jakarta, Rabu (22/11/2017).

Ia menambahkan, untuk mengantisipasi serbuan produk impor, saat ini yang dilakukan produsen lokal adalah pengembangan produk, misalnya investasi fasilitas produk kaca lembaran bernilai tambah tinggi.

Selain itu, produsen lokal juga melakukan investasi kaca lembaran olahan, misalnya memproses kaca lembaran menjadi kaca lembaran pengaman utk bangunan, kaca isolasi untuk bangunan dan kulkas dengan pintu tembus pandang (showcase). "upaya tersebut dilakukan untuk menyambung hidup mereka," terangnya.

Yustinus berharap pemerintah mengupayakan ekspor produk kaca bernilai tambah seperti, kaca pengaman untuk kendaraan bermotor dan bangunan, kaca cermin.

"Dengan begitu industri kaca nasional akan semakin berkembang dan berdaya saing tinggi," imbuhnya.

Untuk meredam banjirnya produk impor, AKLP bersama Kementerian Perindustrian tengah merumuskan sertifikasi standar nasional Indonesia (SNI) untuk produk insulated glass (kaca isolasi).

Kaca isolasi adalah kaca berlapis untuk menyerap panas, mengurangi polusi suara, dan menghindari embun. Produk ini sering dipergunakan dalam gedung bertingkat, bandara, studio musik, dan lain-lain.

Kehadiran SNI diyakini mampu membendung produk impor yang masuk ke pasaran. "Selain melindungi konsumen, SNI bertujuan untuk melindungi pasar dalam negeri dari serbuan produk impor," ungkapnya.

Terkait harga gas, Yustinus meminta pemerintah untuk segera menurunkan harga gas untuk industri sebelum akhir tahun 2017. "Saat ini deindustrialisasi berlangsung terus, padahal laju deindustrialisasi dapat dihambat dengan penurunan harga gas bumi," ungkap Yustinus.

Yustinus berharap pemerintah memprioritaskan masalah ini (penurunan harga gas) guna menggairahkan industri nasional dan meningkatkan daya saing industri dalam negeri di kancah global.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →