Industri Perhiasan Nasional Pasar Potensial Masyarakat Menengah

Oleh : Ridwan | Jumat, 27 Oktober 2017 - 15:09 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Surabaya- Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih menyebutkan golongan menengah Indonesia kini menjadi pasar potensial bagi perhiasan nasional karena sudah mengalami kenaikan level ekonomi.

"Ke depan golongan menengah Indonesia bisa menjadi pasar potensial bagi perhiasan nasional, sebagai alternatif solusi pasar ekspor yang mengalami penurunan," kata Gati, usai membuka pameran perhiasan "Surabaya Jewellery Fair 2017" di Surabaya, Kamis (26/10/2017)

Oleh karena itu, kata Gati, Kemenperin akan mendorong golongan menengah ini untuk ikut ambil bagian dengan mengundang mereka dalam pameran perhiasan berikutnya, supaya ikut belanja.

"Tahun depan, komunitas ibu-ibu profesional harus diundang supaya mereka ikut belanja dan diundang secara khusus," tuturnya.

Gati menjelaskan, perlu terus dilakukan upaya-upaya terobosan untuk mendorong pertumbuhan industri perhiasan sebagai salah satu penghasil devisa ekspor yang besar.

Kemenperin, kata dia, juga telah melakukan beberapa langkah strategis mendorong pertumbuhan industri perhiasan, seperti melakukan "Focus Group Discussion" (FGD) dan seminar mengenai komoditi batu mulia dan perhiasan di Indonesia.

Selain itu, juga melakukan bimbingan teknis dan pendampingan desain dalam rangka peningkatan kemampuan sumber daya manusia termasuk dalam hal peningkatan mutu dan pemanfaatan teknologi.

Sementara itu, kata Gati, langkah strategis yang juga dilakukan terkait bahan baku industri perhiasan yaitu dengan mengusulkan penurunan tarif Bea Masuk MFN intan kasar dan intan yang telah diasah kepada Kementerian Keuangan.

"Penurunan tarif bea masuk MFN intan kasar dan intan yang telah diasah menjadi 0 persen agar industri perhiasan di Indonesia menjadi lebih berdaya saing," katanya.

Hal itu, kata dia, termasuk juga melakukan inisiasi dan koordinasi dengan pihak terkait agar produk perhiasan dari Indonesia tidak terkena bea masuk di negara tujuan ekspor, seperti Dubai yang saat ini masih menerapkan tarif BM untuk produk perhiasan dari Indonesia sebesar 5 persen.

Pada pameran Surabaya Jewellery Fair 2017, Ditjen IKM memfasilitasi 29 stan perhiasan yang terdiri dari perhiasan emas, perak, mutiara dan aksesoris perhiasan lainnya.

Perhiasan perak berasal dari Bali dan Yogyakarta. Juga terdapat batu mulia yang berasal dari Aceh, Banjarmasin, Pacitan, Banten, Jakarta, dan Sukabumi. Untuk aksesoris perhiasan berasal dari daerah Solo, Semarang, dan Yogyakarta.

Gati berharap melalui pameran ini para IKM perhiasan dapat saling bersinergi sehingga tercipta dampak positif, baik bagi pelaku industri perhiasan, maupun masyarakat secara umum melalui pertumbuhan ekonomi serta berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja yang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →