Transformasi BTN untuk Wujudkan Program Sejuta Rumah

Oleh : Nandi Nanti | Minggu, 08 Oktober 2017 - 11:08 WIB · 7 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Sederet terobosan dilakukan Bank BTN dalam memangkas backlog perumahan nasional. Selain transformasi internal, Perseroan juga giat menggelar promosi dan meluncurkan produk baru.

Permintaan perumahan setiap tahun mencapai angka 820 ribu hingga 1 juta unit, hanya sekitar 60% yang bisa dipenuhi, baik yang dikontribusi oleh private sector maupun pemerintah. Artinya ada sekitar 40% backlog atau kebutuhan rumah yang belum terpenuhi.

Tanpa teroboson, tingkat backlog tersebut akan terus meningkat. Ini persoalan serius yang harus segera ditangani. Karena itu pemerintah pun menggulirkan Program Sejuta Rumah dan menugaskan Bank BTN sebagai aktor utama sekaligus motor penggerak memangkas backlog tersebut.

Pemerintah tidak salah pilih, dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di bisnis pembiayaan perumahan Bank BTN punya kekuatan dan sumberdaya mewujudkan program tersebut. Meski begitu, tatap saja ini tugas berat dan butuh effort yang luar biasa. Sebab bukan hanya menyalurkan kredit perumahan, Bank BTN juga harus berperan ganda menjaga iklim positif iindustri properti sekaligus berupaya merangsang minat masyarakat untuk memiliki rumah.

Ada banyak kerja besar dilakukan BTN untuk menjalankan perannya. Dari sisi internal digelar transformasi bisnis, langkah promosi serta kreatif membuat produk-produk baru dalam memacu daya beli masyarakat juga dilakukan secara konsisten. Upaya-upaya itu dipaparkan secara khusus oleh Direktur Utama Bank BTN, Maryono kepada tim redaksi INDUSTRY.co.id, termasuk target-target kinerja dan bisnis BTN. Sebab selain BTN berupaya mewujudkan tugas negara, sebagai korporasi BTN juga harus tumbuh dengan sehat. Berikut  petikan wawancaranya.

Tahun 2016 dianggap masa kurang baik bagi sektor properti nasional. Sebab hampir semua kategori bisnis melambat. Kalau boleh mereview, apa faktor yang menyebabkan perlambatan bisnis tersebut?

Secara umum, tekanan ekonomi global masih menjadi penyumbang bisnis di Indonesia sedikit melambat. Tahun lalu, ekonomi Amerika Serikat memang mulai menunjukkan geliat positif dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, tingkat pengangguran yang stabil, dan kenaikan inflasi. Namun, di sisi lain, dunia global masih dibayangi keluarnya Inggris dari European Union dan kebijakan Abenomics di Jepang yang tak membuahkan hasil.

Untuk sektor properti di Tanah Air, terutama properti komersial, turut mengalami sedikit perlambatan karena penurunan daya beli masyarakat ikut menurun sejalan dengan perlambatan ekonomi. Namun, khusus untuk rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tak ikut terkena dampak tekanan ekonomi tersebut karena permintaan rumah di segmen ini masih tinggi dan terus bertumbuh. Selain itu, adanya kebijakan relaksasi ketentuan loan to value (LTV) dan financing to value (FTV) menjadi pendorong kemajuan sektor ini. Apalagi, sektor properti sebenarnya memiliki efek pengganda yang besar karena terkait dengan 170 industri.

Walau industri properti secara umum melambat, pembiayaan Bank Tabungan Negara cukup impresif tumbuh 18,34% YoY di 2016. KPR masih menjadi penopang utama kredit BTN. Apakah ini terkait dengan program 1 juta rumah yang menjadi fokus pemerintah?

Kebutuhan perumahan memang sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat Indonesia. Kami bersyukur pemerintahan Bapak Presiden Joko Widodo dan Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla berupaya menjawab pemenuhan kebutuhan tersebut lewat Program Sejuta Rumah. Dukungan terlihat dari adanya alokasi dana APBN yang lebih besar untuk pemenuhan kebutuhan perumahan tersebut dan relaksasi LTV juga menjadi penyokong pertumbuhan bisnis kami.

Di sisi lain, kami pun tetap menggelar berbagai transformasi secara internal sejak 2013. Tahun ini, kami memasuki tahap transformasi digital. Kami juga membentuk Housing Finance Center (HFC) untuk menciptakan iklim bisnis properti yang berkualitas dan berkelanjutan di Indonesia.

Berapa presentasi kredit KPR bersubsidi atau MBR yang disokong BTN di 2016 dari total kredit yang disalurkan? Berapa pula presentasi kredit komersial?

Komposisi KPR subsidi sekitar 35% atau setara Rp56,83 triliun. Untuk kredit non-subsidi senilai Rp60,46 triliun atau setara 37% dari total kredit.

Sudah adakah sinyal pembalikan arah kondisi bisnis properti saat ini? Karena banyak pelaku bisnis lain menilai 2017 akan menjadi momentum pertumbuhan?

Pertumbuhan ekonomi pada 2016 sebesar 5,02% atau tertinggi dalam dua tahun terakhir telah menjadi pemicu yang baik untuk mengawali 2017. Apalagi tahun ini ekonomi Indonesia diprediksi akan tumbuh lebih tinggi sebesar 5,1%-5,2% (yoy).

Meski tekanan ekonomi global masih ada, tapi fundamental Indonesia sudah cukup kuat dan kami meyakini dengan strategi pembangunan infrastruktur, tax amnesty, dan kebijakan pemerintah lainnya akan menjadi momentum pertumbuhan bisnis di berbagai sektor, termasuk properti.

Faktor-faktor apa saja yang mendukung pertumbuhan properti tahun ini? Bagaimana dengan keberpihakan pemerintah (pelonggaran regulasi), suku bunga, dan likuiditas maupun asumsi pertumbuhan ekonomi?

Secara umum bisnis properti tetap positif. Penyebabnya, karena kebutuhan akan perumahan di Indonesia yang masih besar dan properti cenderung menjadi pilihan investasi masyarakat di Indonesia. Pada 2017, geliat sektor properti akan kian positif mengingat tahun ini Program Sejuta Rumah masih terus berlangsung. Selain itu, alokasi pemerintah untuk program ini juga kian besar. Belum lagi, efek relaksasi LTV dan FTV akan kian terlihat di tahun ini.

Adanya perubahan kebijakan BI 7-day repo rate sebagai suku bunga acuan juga akan menjadi bantalan untuk kestabilan moneter di tengah sentimen kenaikan Fed Fund Rate. Posisi suku bunga acuan yang lebih bersahabat ini menjadi penyokong pertumbuhan kredit perbankan yang lebih baik di tahun ini.

Dengan asumsi makin positifnya bisnis properti, bagaimana pengaruhnya ke BTN. Berapa target pembiayaan BTN tahun ini, berapa persen yang dikontribusi dari pembiayaan KPR?

Sebagai bank yang berfokus ke pembiayaan perumahan, tentu pengaruhnya besar bagi perseroan. Namun, tentu kami tetap menjaga kualitas kredit dengan komitmen menjalankan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Tahun ini kami berfokus mencapai target pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar 21%-23%. Dari sektor KPR sendiri, pertumbuhan dibidik akan naik 33% pada 2017.

Apa langkah-langkah BTN meningkatkan pembiayaan rumah bersubsidi dalam rangka mendorong program 1 juta rumah pemerintah? Berapa jumlah dan nilai rumah murah yang akan dibiayai tahun ini?

Selain berbagai transformasi dan mendirikan HFC untuk mencetak pengembang baru dalam rangka mendukung Program Sejuta Rumah, kami juga meningkatkan promosi. Bulan Februari & Agustus misalnya, kami menggelar ajang Indonesia Property Expo (IPEX) 2017. Kami juga meluncurkan produk baru yakni KPR Mikro bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan maksimal plafon kredit senilai Rp75 juta.

Tahun ini untuk KPR subsidi kami membidik akan ada 185.000 unit rumah baru yang dibiayai. Sementara untuk KPR non-subsidi kami mengincar akan membiayai 78.000 unit rumah. Kami juga akan menyalurkan kredit konstruksi bagi para pengembang dalam rangka pemenuhan Program Sejuta Rumah ini.

Bagaimana pula dengan pembiayaan komersial, bagaimana strateginya. Apakah termasuk mengembangkan Housing Finance Center (HFC) dengan target mencetak 1.000 pengembang baru?

Untuk pembiayaan komersial, Bank BTN terus menggelar promosi dengan menawarkan bunga khusus. Di samping itu, kami juga terus memoles pelayanan sehingga dapat memberikan service lebih baik terutama terkait pengajuan KPR. Salah satunya, yakni dengan menyederhanakan proses persetujuan KPR dari 1:5:1 menjadi 1:3:1. Kami juga memiliki portal www.btnproperti.co.id untuk mempermudah proses pengajuan KPR.

HFC pun menjadi salah satu strategi kami meningkatkan segmen pembiayaan KPR. HFCtak hanya menjadi salah satu langkah kami untuk menciptakan pengembang-pengembang baru. Lewat HFC, Bank BTN juga berkontribusi menciptakan sektor properti yang tumbuh positif dan berkelanjutan. HFC memiliki tiga pilar yakni pusat riset, edukasi, dan konsultasi terkait pembiayaan perumahan yang terdepan. Secara total, telah ada 770 peserta yang telah dididik melalui badan ini. Targetnya, akan ada 1.000 orang yang dididik melalui berbagai program pendidikan HFC pada tahun ini.

Salah satu program dari HFC yakni Mini MBA in Property yang merupakan hasil kerja sama Bank BTN dengan School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB). Ada 4 pilar pembangunan properti yang dipelajari melalui program ini yakni tanah dan lingkungan (land & environment), modal (capital), hukum (legal), dan keterampilan (skill). Hingga awal 2017, dari program ini kami telah mencetak 235 lulusan Mini MBA in Property.

Meski agresif menyalurkan kredit, BTN ternyata mampu menekan NPL. Bagaimana strategi BTN melakukannya?

Strategi pembenahan kredit konsumer kami fokuskan pada intensifikasi metode dan strategi yang telah ada yakni melalui penagihan, restrukturisasi, dan penjualan aset atau lelang. Di bidang kredit komersial, perbaikan proses bisnis kredit komersial pun dilakukan dengan penerapan kewenangan memutus kredit komersial yang lebih ketat. Perbaikan juga dilakukan melalui proses monitoring kredit yang lebih terintegrasi dan update.

Bagaimana dengan target laba bersih tahun ini? Apa yang mendorong optimisme BTN dapat mempertahankan capaian laba yang tumbuh signifikan sebagaimana tahun 2016 lalu?

Selain pertumbuhan ekonomi secara umum yang diyakini tumbuh lebih baik pada tahun ini,potensi di sektor properti pun masih besar. Apalagi, tahun ini dampak lanjutan dari berbagai relaksasi dan kebijakan pemerintah akan mulai terlihat. Berbagai dampak positif dari transformasi yang dilakukan Bank BTN pun akan kian terasa pada tahun ini dan tentu bakal turut menopang target laba kami. Dengan berbagai dukungan tersebut, kami membidik laba bersih tumbuh di atas 20% pada 2017.

Nandi Nanti

Pimpinan usaha Industry.co.id

Nandi Nanti adalah Pendiri Industry.co.id, portal berita ekonomi dan bisnis. Karir jurnalistiknya dimulai sejak 2004 di Koran Pelita hingga Majalah Investor Group, lalu mendirikan Majalah Industry pada 2012 dan media online Industry.co.id pada 2017. Beliau aktif di organisasi media sebagai Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) DKI Jakarta periode 2019–2023, Bendahara Umum di Forum Media Digital Indonesia di 2016. Di bidang kelembagaan, Nandi juga aktif di Kadin Indonesia dan terakhir menjabat Ketua Komtap Media & Kelembagaan di Aptrindo (ALB Kadin).

Lihat semua artikel →