Kendati BI Turunkan Suku Bunga Acuan, Tapi Suku Bunga Kredit Masih Tinggi

Oleh : Abraham Sihombing | Rabu, 04 Oktober 2017 - 11:51 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuannya dari 4,5% menjadi 4,25% rupanya tidak diikuti oleh penurunan suku bunga kredit perbankan. Parahnya, yang justru diturunkan adalah suku bunga deposito.

“Kami sesalkan sikap perbankan yang tidak responsif terhadap kebijakan BI. Dunia usaha menyayangkan suku bunga kredit perbankan masih tinggi,” ujar Shinta W. Kamdani, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Hubungan Internasional di Jakarta, Rabu (04/10/2017).

Shinta menjelaskan, saat ini terjadi gap yang besar antara suku bunga deposito dengan suku bunga pinjaman. Perbankan harus memperhatikan hal tersebut. Karena, jika hal tersebut dibiarkan, maka dunia usaha tidak dapat berkesinambungan (sustainable).

“Perbankan seharusnya mengikuti juga kebiijakan BI tersebut dengan menurunkan tingkat suku bunga kredit,” tukas Shinta.

Shinta mengemukakan, jika perbankan enggan menurunkan tingkat suku bunga kredit maka itu akan menyebabkan pengusaha atau investor kesulitan melakukan ekspansi usaha. Pasalnya, beban biaya produksi dan biaya lainnya akan tetap tinggi.

Shinta memperkirakan, pengusaha baru dapat berekspansi usaha pada 2018-2019. Itupun tampaknya hanya dilakukan sebagian kecil pengusaha. Pasalnya, 2018-2019 adalah tahun politik dimana stabilitas dan suhu politik meningkat dan berdampak pada iklim usaha.

"Saat ini pengusaha berhati-hati sekali, lebih konsolidasi untuk ekspansi, kecuali kalau bunga kredit turun, itu akan membantu. Sekarang mereka tidak mau tambah kredit karena suku bunganya tidak turun tetapi bunga simpanan yang malahan turun,” pungkasnya. (Abraham Sihombing)

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →