HIMKI: Dalam Hal Teknologi, Indonesia Masih Kalah Dari China

Oleh : Ridwan | Kamis, 28 September 2017 - 15:57 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur mengatakan industri mebel dan kerajinan indonesia seharusnya bisa tumbuh lebih baik dibandingkan dengan China. Pasalnya, 85 persen bahan baku industri tersebut berada di Indonesia.

"Kenapa industri mebel dan kerajinan China dapat tumbuh mencapai US$ 55-60 miliar, karena China menggunakan teknologi terkini. Sedangkan Indonesia hanya dapat tumbuh mencapai US$ 1,6 miliar," ujar Abdul Sobur di Jakarta, Kamis (28/9/2017).

Ia menambahkan, teknologi menjadi pembeda antara industri nasional dengan China. Mereka menggandeng teknologi ini menjadi basis kekuatan mereka. "Untuk mengejar ketertinggalan ini Indonesia harus segera menggandeng teknologi, jika tidak bisa membuat mesin ya tinggal membelinya secara impor," terangnya.

Ia menambahkan, teknologi terbaik untuk furnitur mampu meningkatkan kemampuan pengusaha dalam negeri. Dia berharap pelaku usaha bisa dimudahkan mendapatkan akses permodalan agar mampu membeli mesin furnitur tercanggih.
"Untuk mesin itu penting, seperti mesin dari Eropa khususnya Jerman yang sudah diakui dunia dengan kemampuan digital bisa mempercepat juga untuk pabrik furnitur," jelas Sobur.

Menurutnya, bahan baku, mesin, dan keterampilan jadi faktor penentu pertumbuhan penjualan mebel dan kerajinan. Namun sebanyak 80 persen pertumbuhan ini hanya bisa ditopang oleh teknologi. "China tidak memiliki bahan baku, namun dia bisa membangun mesin. tanpa ada dukungan teknologi dan kebijakan pemerintah target Himki yang ingin mencapai penjualan US$ 5 miliar tidak bisa terwujud (akhir tahun 2019)," ucap Sobur.

Lebih lanjut, ia mengatakan, saat ini industri dalam negeri perlu meningkatkan tampilan desain agar bisa diserap pasar. Jika pasar lokal sudah menerima maka jumlah produksi juga akan meningkat. "Makanya disini produsen produk akhir dalam negeri perlu berinvestasi dan implementasikan teknologi dunia pada system produksi mereka," katanya.

 

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →