PINTU Gandeng Universitas Paramadina Perkuat Literasi Digital Hadapi Ancaman AI dan Hoaks

Oleh : Hariyanto | Jumat, 10 Juli 2026 - 18:33 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Pintu Kemana Saja (PINTU) memperkuat komitmennya dalam meningkatkan literasi digital masyarakat melalui kolaborasi dengan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina. Melalui program bertajuk "Cek Sebelum Cekcok", perusahaan mendorong masyarakat lebih waspada terhadap maraknya hoaks, video deepfake, hingga ancaman kejahatan siber yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Program yang digelar di Trimedia Green Park, Bintara, Bekasi, pada 4 Juli 2026 itu diikuti sekitar 150 warga Kota Bekasi. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), DPRD Kota Bekasi, serta Universitas Paramadina.

Chief Marketing Officer PINTU, Timothius Martin, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi AI di Indonesia.

"Kolaborasi PINTU dengan Universitas Paramadina merupakan bentuk komitmen serta tanggung jawab PINTU akan pentingnya literasi digital guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi ancaman siber, sekaligus agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk manfaat sebesar-besarnya. Kami berharap program ini dapat menjadi inspirasi serta landasan bagi masyarakat yang lebih cerdas digital," ujar Timothius.

Urgensi peningkatan literasi digital dinilai semakin besar mengingat tingginya penetrasi internet di Indonesia. Anggota DPRD Kota Bekasi, Ir. Hj. Chairun Nisa, mengungkapkan Kota Bekasi memiliki sekitar 2,8 juta penduduk dengan 2,2 juta di antaranya merupakan pengguna internet.

"Kota Bekasi memiliki jumlah penduduk sebanyak 2,8 juta orang dengan pengguna internetnya ada 2,2 juta orang. Kita wajib menjadi bagian dari sumber daya manusia (SDM) Kota Bekasi yang cerdas digital. Karena hampir setiap orang saat ini menghabiskan waktunya di media sosial, perlu untuk melindungi kita semua dari praktik penipuan digital," katanya.

Dari sisi akademisi, Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Dr. Rini Sudarmanti, mengingatkan masyarakat agar mampu mengenali karakteristik informasi palsu yang kini semakin sulit dibedakan akibat perkembangan AI.

"Masyarakat, khususnya ibu-ibu, perlu mengenali ciri hoaks agar tidak terjebak informasi keliru. Kita harus curiga jika ada judul yang lebay, foto atau video hasil rekayasa AI, serta sumber yang tidak jelas. Gunakan formula verifikasi mandiri: tarik napas, cek faktanya, cari dari sumber kredibel, lalu luruskan secara santun," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Komdigi, Dimas Aditya Nugraha, menilai kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi hoaks masih beragam. "Sekitar 7% sangat yakin dengan informasi hoaks, 25% yakin, dan 45% masih bimbang. Karena itu sangat penting bagi kita melakukan saring sebelum sharing agar terhindar dari praktik manipulasi informasi," katanya.

PINTU juga membekali peserta dengan edukasi mengenai modus penipuan digital yang memanfaatkan AI. Senior Product Marketing Specialist PINTU, Reyner Jonathan, mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya, tidak panik, selalu memverifikasi nomor resmi suatu institusi, serta menghindari mengklik tautan yang mencurigakan atau phishing.

Di sisi lain, Reyner menekankan bahwa AI tidak hanya menghadirkan risiko, tetapi juga membuka peluang peningkatan produktivitas. Menurutnya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mencari resep masakan, membandingkan produk, membantu membuat konten media sosial, hingga menyusun pembukuan usaha.

"AI juga memiliki banyak manfaat dan bisa dipergunakan untuk hal yang positif. Jadi AI ini hanya alat yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif," ujarnya.

Peningkatan literasi digital dinilai semakin relevan mengingat adopsi AI di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 PwC Indonesia, sebanyak 69% pekerja di Indonesia mengaku telah memanfaatkan AI dalam pekerjaannya selama satu tahun terakhir untuk meningkatkan produktivitas. Di sisi lain, Komdigi memperkirakan kerugian akibat penipuan berbasis digital di Indonesia telah mencapai sekitar Rp7,5 triliun.

Menutup kegiatan tersebut, Reyner menegaskan PINTU akan terus mendukung berbagai program edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman kejahatan digital.

"Kami memiliki komitmen untuk mendukung program edukasi dan literasi bagi masyarakat agar masyarakat bisa lebih waspada terhadap segala bentuk tindak kejahatan berbasis digital serta mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kehidupan yang lebih baik. Kami mengapresiasi Universitas Paramadina yang telah menggagas kegiatan ini yang diharapkan bisa meningkatkan pemahaman lebih dalam mengenai bahaya hoaks dan penipuan digital," tutupnya.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →