AFTECH Petakan Lima Transisi Besar yang Akan Menentukan Masa Depan Industri Fintech

Oleh : Hariyanto | Jumat, 10 Juli 2026 - 13:54 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Industri teknologi finansial (fintech) Indonesia memasuki babak baru setelah lebih dari satu dekade bertumbuh agresif. Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menilai fokus industri kini bergeser dari mengejar ekspansi menuju penguatan fundamental bisnis, kepastian regulasi, hingga penciptaan dampak ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Pemetaan tersebut tertuang dalam Annual Members Survey (AMS) 2025–2026 yang melibatkan 141 perusahaan anggota AFTECH dari berbagai subsektor, mulai dari sistem pembayaran, pembiayaan digital, aset digital, layanan teknologi finansial, hingga penyedia platform pendukung ekosistem.

Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, mengatakan hasil survei menunjukkan indikator daya saing industri kini tidak lagi hanya diukur dari laju pertumbuhan bisnis, melainkan dari kualitas fondasi usaha dan kepercayaan publik terhadap layanan keuangan digital.

"Industri fintech Indonesia sedang memasuki fase pendewasaan. Daya saing ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat perusahaan tumbuh, tetapi oleh seberapa kuat fundamental bisnisnya, seberapa konsisten regulasi dapat diimplementasikan, seberapa besar kepercayaan digital yang bisa dibangun, serta seberapa nyata dampaknya bagi masyarakat dan perekonomian," ujar Pandu, Jumat (10/7).

AFTECH mengidentifikasi lima transisi struktural yang akan membentuk arah industri ke depan. Pergeseran pertama adalah dari orientasi pertumbuhan menuju penguatan fundamental bisnis. Survei menunjukkan 77% perusahaan menjadikan kemitraan strategis sebagai strategi utama pertumbuhan, sementara 97% responden mempertahankan model bisnisnya dalam setahun terakhir, mengindikasikan fokus pada peningkatan kualitas bisnis dibanding ekspansi agresif.

Perubahan kedua adalah bergesernya perhatian dari pembentukan regulasi menuju kepastian implementasi. Sebanyak 84% responden menilai stabilitas dan kepastian penerapan regulasi menjadi dukungan pemerintah yang paling dibutuhkan untuk menjaga iklim usaha.

Selanjutnya, pembangunan infrastruktur digital kini tidak lagi hanya diarahkan untuk mempercepat transaksi, tetapi juga membangun kepercayaan digital. Sebanyak 53% responden menempatkan penguatan sistem identitas digital sebagai prioritas utama pengembangan infrastruktur.

Transisi berikutnya terjadi pada aspek sumber daya manusia. Di tengah semakin luasnya pemanfaatan teknologi, industri menghadapi tantangan dalam memperkuat kapabilitas talenta. Sebanyak 48% responden mengaku kesulitan merekrut tenaga kerja yang memiliki kompetensi di bidang data, kecerdasan buatan (AI), dan analitik.

Sementara itu, agenda inklusi keuangan juga mulai bergeser menuju penciptaan dampak yang lebih berkelanjutan. Sebanyak 71% responden menilai rendahnya literasi keuangan masih menjadi hambatan utama dalam memperluas pemanfaatan layanan keuangan digital oleh masyarakat.

"Lima transisi ini menunjukkan bahwa fintech semakin menjadi bagian penting dari arsitektur ekonomi digital Indonesia. Karena itu, kolaborasi antara industri, regulator, pemerintah, lembaga keuangan, penyedia teknologi, dan institusi pendidikan menjadi semakin penting untuk memastikan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan," kata Pandu.

Di sisi lain, hasil survei juga mencerminkan penguatan kinerja industri. Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, mengungkapkan sebanyak 43% perusahaan responden telah mencatatkan laba, sementara 81% telah menjalin kemitraan aktif dengan pelaku ekosistem. Selain itu, 86% responden menilai kerangka regulasi saat ini mendukung inovasi dan 81% menilai regulasi telah menopang pertumbuhan industri.

"Data AMS memperlihatkan bahwa industri tidak hanya tumbuh lebih besar, tetapi juga semakin siap, tertata, dan bertanggung jawab. Ini terlihat dari profitabilitas yang mulai menguat, kolaborasi ekosistem yang semakin luas, serta persepsi positif terhadap arah regulasi," ujar Firlie.

Survei tersebut juga menunjukkan percepatan adopsi teknologi di sektor fintech. Sebanyak 83% responden telah menggunakan atau menguji coba AI untuk berbagai fungsi operasional, mulai dari analisis data, layanan pelanggan, otomatisasi proses, deteksi fraud, hingga penilaian kredit dan manajemen risiko.

Pada aspek inklusi dan keberlanjutan, separuh responden menyatakan produk mereka dirancang untuk menjangkau masyarakat unbanked dan underserved. Selain itu, 81% perusahaan telah menjalankan program literasi keuangan, sedangkan 56% telah memiliki atau tengah mengembangkan program berbasis environmental, social, and governance (ESG).

Melalui hasil AMS 2025–2026, AFTECH optimistis fondasi industri fintech yang semakin kuat akan mendorong perluasan akses layanan keuangan, meningkatkan kepercayaan publik, sekaligus memperbesar kontribusi sektor keuangan digital terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →