BRIN dan Pertamina Perkuat Hilirisasi Drilling Starch Berbasis Sagu untuk Industri Migas
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat hilirisasi hasil riset melalui kolaborasi strategis dengan industri. Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui kunjungan PT Pertamina (Persero), PT Elnusa Tbk, dan PT Elnusa Petrofin ke fasilitas pengembangan drilling starch berbasis sagu milik Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP) BRIN di Anak Tuha, Lampung Tengah, Selasa (30/6).
Kunjungan ini menjadi bagian dari tindak lanjut kerja sama pengembangan drilling starch berbasis sagu sebagai aditif fluida pengeboran migas.
Pertemuan membahas perkembangan riset, hasil uji lapangan, kesiapan fasilitas produksi, hingga strategi pemanfaatan teknologi untuk mendukung kebutuhan industri migas nasional.
Rombongan Pertamina dipimpin Manager Upstream & Low Carbon – Technology Commercial and Implementation, Farid Febrian. Sementara dari PRTP BRIN hadir Perekayasa Ahli Utama Bambang Triwiyono, Perekayasa Ahli Madya Yanuar Sigit Pramana, beserta tim peneliti.
Dalam diskusi dipaparkan perjalanan pengembangan teknologi drilling starch sejak 2022, mulai dari optimasi bahan baku berbasis tapioka dan sagu, pengembangan prototipe, kajian teknis dan ekonomi, produksi skala pilot, hingga pengujian produk pada kegiatan pengeboran minyak dan gas.
Perekayasa Ahli Utama PRTP BRIN Bambang Triwiyono menjelaskan bahwa pemanfaatan sagu menjadi salah satu inovasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya hayati Indonesia.
"Sagu diolah melalui rekayasa proses menjadi drilling starch, aditif fluida pengeboran. Hal ini untuk mengendalikan kehilangan cairan ke formasi batuan, sebagai upaya pengembangan material pendukung industri berbasis potensi nasional," ujar Bambang.
Ia menambahkan, pada periode kerja sama kedua yang berlangsung Oktober 2023 hingga Juli 2024, fasilitas BRIN di Anak Tuha berhasil memproduksi sekitar 16 ton drilling starch berbasis sagu.
Produk tersebut kemudian digunakan dalam uji lapangan Pertamina di Ramba Field, Zona 4 pada Maret 2025 dan Jatibarang Zona 7 pada November 2025.
Menurut Bambang, hasil evaluasi menunjukkan performa produk memenuhi harapan sebagai pengendali kehilangan filtrat selama proses pengeboran.
"Hasil evaluasi menunjukkan kinerja produk baik sebagai pengendali kehilangan filtrat tanpa kendala berarti. Capaian ini menandai kemajuan riset dari skala laboratorium ke produksi pilot dan kesiapan teknologi untuk kebutuhan industri," paparnya.
Selain membahas hasil riset, para peserta juga meninjau fasilitas produksi pilot di Anak Tuha yang memiliki kapasitas sekitar satu ton per hari.
Fasilitas tersebut masih memerlukan sejumlah perawatan dan penyesuaian teknis sebelum memasuki tahap pengembangan berikutnya.
Pertemuan turut membahas berbagai aspek penting dalam pengembangan teknologi, mulai dari kesiapan teknis, pengendalian mutu, ketersediaan bahan baku, aspek keselamatan kerja, pembiayaan, hingga pembagian peran antar mitra.
Dalam jangka panjang, Pertamina merencanakan pembangunan fasilitas produksi mandiri dengan supervisi teknis dari BRIN. Rencana tersebut akan diawali melalui studi teknis dan kajian kelayakan sebagai dasar pengembangan hingga tahap operasional.
Kolaborasi BRIN dan Pertamina menunjukkan pentingnya sinergi antara lembaga riset dan industri dalam mempercepat pemanfaatan hasil penelitian.
Selain menghasilkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan industri, kerja sama ini juga memberikan umpan balik untuk meningkatkan tingkat kesiapan teknologi.
Pengembangan drilling starch berbasis sagu menjadi contoh pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia yang mampu memberikan nilai tambah bagi sektor energi.
Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, inovasi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas teknologi nasional sekaligus mendorong kemandirian industri migas.
Hasil kunjungan dan diskusi akan menjadi dasar penyusunan langkah pengembangan selanjutnya sesuai kajian teknis serta mekanisme kerja sama yang telah disepakati.