Lorena Bakal Luncurkan Layanan Kargo di Paruh Kedua 2026

Oleh : Abraham Sihombing | Jumat, 26 Juni 2026 - 16:00 WIB · 5 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.idBogor - PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) akan meluncurkan layanan kargo pada paruh kedua 2026. Ini merupakan diversifikasi bisnis Perseroan yang ditempuh untuk memperkuat fundamental operasional Perseroan sekaligus membuka sumber pendapatan baru di tengah ketatnya persaingan industri transportasi darat.

 

Direktur Pelaksana PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, Dwi Rianta Soerbakti, mengatakan, layanan kargo akan dijalankan dengan sinergi bersama ESL Express yang merupakan sister company perseroan.

 

“Kami akan meluncurkan layanan kargo berkolaborasi dengan ESL Express pada semester II 2026," ujar Dwi Rianta Soerbakti dalam Paparan Publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Bogor, Jumat (26/06/2026).

 

Selain mengembangkan bisnis kargo, Perseroan juga memperkuat divisi rental untuk meraih pendapatan tetap (fixed income). LRNA juga akan meremajakan armada secara bertahap pada semester kedua tahun ini.

 

Di sisi pemasaran, Perseroan terus memperkuat digital marketing dan layanan e-ticketing, termasuk penjualan tiket melalui platform online seperti Traveloka, RedBus, Alfamart, dan Indomaret. “Pangsa pasar AKAP akan semakin nyaman seiring dengan penerapan teknologi untuk membeli tiket," kata Dwi Rianta.

 

Untuk meningkatkan efisiensi operasional, LRNA juga mengembangkan sistem teknologi informasi yang mencakup proses front end dan back end. Perseroan berupaya memperketat pengawasan terhadap penerimaan dan pengeluaran serta melakukan efisiensi di berbagai lini usaha.

 

“Efisiensi ini untuk meringankan beban Perseroan, termasuk pengurangan jumlah karyawan,” ujarnya.

 

Rianta mengakui industri bus antar kota antar provinsi (AKAP) masih menghadapi sejumlah tantangan. Meski sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,78% pada 2025, pertumbuhan bus penumpang tidak mengikuti tren positif tersebut.

 

Menurutnya, moda transportasi bus masih menghadapi persaingan ketat dengan kereta api dan pesawat, terutama di jalur-jalur padat di Pulau Jawa. Selain itu, semakin banyak masyarakat yang memilih kendaraan pribadi maupun layanan travel seiring tersedianya jaringan jalantol.”Pertumbuhan bus penumpang tidak secerah itu. Kita kalah dengan kereta api dan pesawat di rute gemuk Jawa. Orang juga beralih ke travel dan mobil pribadi lewat tol,” katanya.

 

Tantangan lainnya adalah meningkatnya jumlah perusahaan otobus di Jawa dan Sumatera yang memicu persaingan semakin ketat. Di saat bersamaan, biaya operasional terus meningkat akibat kenaikan harga suku cadang yang dipengaruhi fluktuasi nilai tukar dolar AS. “Tarif tidak bisa naik sembarangan karena persaingan yang ketat,” imbuh Rianta.

 

Perseroan juga menghadapi persoalan regenerasi sumber daya manusia. Banyak supir dan awak bus yang memasuki masa pensiun, sementara minat generasi muda untuk menjadi pengemudi bus AKAP dinilai masih rendah.

 

“Kru yang berumur berangsur-angsur pensiun, sementara anak muda tidak mau menjadi sopir AKAP karena pekerjaannya melelahkan, jauh dari keluarga, dan sistem penghasilannya berbasis premi,” papar Dwi Rianta.

 

 

Kinerja Perseroan 2025

 

Total pendapatan LRNA pada 2025 tercatat sebesar Rp59,52 miliar. Itu merupakan pendapatan dari Bus AKAP pada 2025 mencapai Rp47,68 miliar, disusul Shuttle Bus Rp7,81 miliar, dan Bus Jarak Pendek Rp4,03 miliar.

 

Jika dibandingkan dengan kinerja 2024, maka pendapatan 2025 LRNA ini mengalami penurunan. Hal itu disebabkan oleh penurunan divisi rental yang signifikan akibat berakhirnya dua kontrak kerjasama.

 

Dari sisi profitabilitas, LRNA mencatat rugi kotor Rp1,26 miliar pada 2025, berbalik dari laba kotor sebesar Rp3,72 miliar pada 2024.

 

Rianta menilai, ruang perbaikan masih besar karena beban pendapatan langsung tetap tinggi yaitu sebesar Rp60,78 miliar, sehingga laba kotor menjadi negatif.

 

“Dengan struktur bisnis seperti ini, perbaikan kinerja tidak cukup hanya melalui peningkatan pendapatan, tetapi juga memerlukan rekayasa produktivitas operasi - khususnya pada komponen biaya langsung yang paling material," ujarnya.

 

Beban pendapatan langsung Perseroan mencakup BBM Rp15,44 miliar, penyusutan armada Rp18,22 miliar, serta penyeberangan/terminal/tol Rp9,47 miliar. Direksi LRNA menegaskan bahwa pengendalian biaya harus dilakukan sampai level operasional mikro seperti konsumsi BBM per rute, kebijakan idle time, standar perawatan untuk menekan breakdown, dan disiplin pengadaan suku cadang.

 

Total aset LRNA mencapai Rp303,47 miliar, turun 9,3% dari periode sama tahun sebelumnya Rp334,6 miliar. Total liabilitas turun 17,88% menjadi Rp36,73 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp44,73 miliar. Total ekuitas mencapai Rp266,74 miliar turun 7,97% dari periode sama tahun sebelumnya Rp289,87 miliar.

 

Perseroan siap menempuh langkah kebijakan maupun rencana yang harus direalisasikan pada 2026 ini.  “Kami menempuh kebijakan efisiensi yang berlapis. Kami melakukan evaluasi rute dan jadwal untuk memastikan setiap trip memenuhi ambang kelayakan operasi (break-even load factor). Memperketat kontrol biaya BBM, termasuk pengawasan pemakaian BBM berbasis realisasi rute dan evaluasi penyimpangan. Memprioritaskan program perawatan preventif untuk menekan biaya korektif dan risiko kehilangan pendapatan akibat armada tidak siap operasi,” jelas Dwi Rianta Soerbakti.

 

 

Sekilas PT Eka Sari Lorena Transport Tbk:

PT Eka Sari Lorena Transport adalah perusahaan jasa transportasi darat yang didirikan pada 9 September 1970. Pada 15 April 2014, Perseroan melakukan Penawaran Umum Saham Perdana (initial public offering/IPO) sebanyak 150.000.000 saham dan mencatatkan saham pertama kali di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham “LRNA”. 

 

Cikal bakal perusahaan ini pertama kali didirikan oleh pengusaha asal Kabanjahe, Sumatera Utara yang bernama GT Soerbakti dengan mendirikan CV Lorena pada 1970. Proyek pertama yakni AKAP yang dijalankan PO Lorena untuk rute Bogor-Jakarta via Cibinong dan mulai beroperasi tahun 1973.

 

Pada 1989, PO Lorena mengakuisisi PO Raseko dan pada 2002 PT Eka Sari Lorena Transport berdiri dan melanjutkan usaha PO Lorena. Pada 2007, Perseroan memenangkan tender operator Busway TransjakartaKoridor 5 (Kp. Melayu-Ancol) dan Koridor 7 (Kp. Rambutan-Kp. Melayu).

 

Sementara itu pada 2011,  Perseroan memenangkan tender operator feeder Busway Rute 1, Rute 2 dan Rute 3. Pada 2018, Perseroan mengoperasikan 14 unit medium bus untuk Shuttle Bus BSD City dan pada tahun 2019 mengoperasikan12 unit armada Jabodetabek Airport Connection (JAC) secara berkala.***

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →