BRIN Dorong Ekosistem Industri EV yang Adaptif di Tengah Pergeseran Teknologi Baterai

Oleh : Candra Mata | Jumat, 26 Juni 2026 - 13:19 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Upaya Indonesia membangun industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berbasis hilirisasi nikel menghadapi tantangan baru seiring pesatnya perkembangan teknologi baterai global. 

Di tengah investasi besar yang telah diarahkan pada ekosistem baterai berbasis nikel, pasar justru mulai bergerak menuju beragam teknologi alternatif yang tidak lagi bergantung pada mineral tersebut.

Peneliti Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan (PREIJP) BRIN, Sigit Setiawan, mengingatkan bahwa kebijakan industri nasional harus mampu mengikuti perubahan teknologi agar tidak tertinggal.

"Dari beberapa kali diskusi dengan para narasumber, banyak sekali teknologi baru yang muncul. Jangan sampai kebijakan kita terlambat beradaptasi dengan teknologi yang baru," ujar Sigit dalam Webinar Science to Policy Dialogue Seri ke-2 bertajuk Tantangan Industri EV di Indonesia: Menavigasi Peluang, Inovasi, dan Daya Saing, Rabu (24/6).

Berdasarkan hasil kajian BRIN, industri kendaraan listrik tidak berkembang menuju satu teknologi baterai tunggal. Berbagai jenis baterai terus dikembangkan dan bersaing sesuai karakteristik, kebutuhan pasar, serta keunggulan masing-masing.

Kondisi tersebut, menurut Sigit, memunculkan tantangan tersendiri bagi Indonesia. Di satu sisi, pemerintah telah mendorong pembangunan rantai pasok kendaraan listrik berbasis nikel melalui program hilirisasi. Namun di sisi lain, pasar kendaraan listrik global mulai mengadopsi teknologi baterai alternatif.

"Indonesia membangun ekosistem industri EV berbasis nikel melalui hilirisasi, sementara pasar EV global dan domestik secara bersamaan mulai beralih ke teknologi baterai lain," katanya.

Salah satu teknologi yang dinilai memiliki prospek besar ialah sodium-ion battery. Teknologi ini menggunakan sodium yang lebih melimpah sehingga berpotensi menawarkan biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan sebagian baterai berbasis nikel. 

Jika terus berkembang, baterai sodium-ion diperkirakan dapat mengurangi kebutuhan nikel pada segmen kendaraan listrik tertentu.

Selain sodium-ion, perkembangan baterai Solid-State, Lithium Iron Phosphate (LFP), serta Lithium Manganese Iron Phosphate (LMFP) juga menunjukkan perubahan arah industri baterai dunia. 

Menurut Sigit, penggunaan baterai LFP semakin meningkat karena biaya produksinya lebih ekonomis, memiliki umur pakai lebih panjang, serta tidak membutuhkan nikel sebagai material utama.

"Dominasi LFP dan perkembangan LMFP di segmen kendaraan listrik utama serta penyimpanan energi secara langsung dapat mengurangi permintaan nikel," ujarnya.

Perubahan teknologi tersebut berpotensi memengaruhi investasi yang telah ditanamkan pada industri berbasis nikel. Risiko yang muncul antara lain kelebihan kapasitas produksi, tekanan terhadap harga nikel, hingga kemungkinan menurunnya nilai aset industri apabila tren teknologi global terus bergeser.

"Masalahnya bukan hanya bagaimana memperbesar produksi satu jenis material, tetapi bagaimana membangun ekosistem yang mampu mengikuti perubahan teknologi," tegasnya.

Sigit menambahkan, daya saing industri baterai nasional juga perlu terus diperkuat. Proses produksi baterai membutuhkan energi dalam jumlah besar, standar manufaktur yang tinggi, serta efisiensi biaya. 

Tantangan lain datang dari kondisi iklim tropis yang menuntut pengendalian suhu dan kelembapan fasilitas produksi, sehingga meningkatkan biaya operasional. Sementara itu, pasar global kini semakin menuntut penggunaan energi rendah karbon dalam proses manufaktur.

Di sisi lain, dominasi negara lain dalam rantai pasok baterai dunia membuat Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya mineral. Penguatan kemampuan riset, inovasi, teknologi manufaktur, hingga pengembangan perangkat lunak dan sistem manajemen baterai dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing nasional.

Untuk itu, Sigit mendorong agar strategi pengembangan industri kendaraan listrik Indonesia disusun lebih fleksibel dan tidak bergantung pada satu jenis teknologi baterai. 

Menurutnya, Indonesia perlu mengembangkan berbagai pilihan teknologi, mulai dari baterai berbasis nikel, LFP, sodium-ion, hingga teknologi baru lainnya, sekaligus memperkuat pengembangan bahan baku alternatif seperti mangan.

"Yang dibutuhkan bukan hanya memperkuat satu komoditas, tetapi membangun ekosistem industri yang inovatif dan fleksibel," ujarnya.

Ia menegaskan, masa depan industri kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan sumber daya alam, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.

"Jangan sampai kita hanya membangun industri untuk teknologi yang sudah mulai berubah. Yang harus dibangun adalah ekosistem yang mampu mengikuti perkembangan teknologi," pungkasnya.

Candra Mata

Redaksi

Candra Mata adalah seorang jurnalis dan wartawan di media cetak dan portal berita online nasional bernama Industry.co.id, tercatat aktif sebagai salah satu tim redaksi dan jurnalis yang mengulas berbagai perkembangan sektor industri di Indonesia.Fokus Liputan: Artikel berita yang ditulisnya banyak berfokus pada kebijakan ekonomi, aktivitas ekspor-impor, program investasi nasional, perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), hingga inovasi Industri Kecil Menengah (IKM)

Lihat semua artikel →