Sandimas Berharap Harga Gas Industri Bisa Setara dengan Malaysia
INDUSTRY.co.id - Jakarta-Pemerintah sampai saat ini belum merealisasi penurunan harga gas industri untuk keramik. Seperti diketahui, industri keramik menjadi salah satu industri yang harga gasnya diturunkan.
Menanggapi hal tersebut, CFO Sandimas, Hasan Basli mengatakan, kami berharap penurunan harga gas bisa segera teralisasi.
"Paling tidak, harganya bisa setara dari negara tetangga seperti Malaysia," ungkap Hasan Basli kepada INDUSTRY.co.id seusai acara Gathering Produk OULU di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (30/8/2017).
Ia menambahkan, harga gas untuk pabrik keramik dan sanitary itu serapan gasnya berbeda. "Kalau di kami (Sanitary) itu hanya sekitar 15-20 persen, sedangkan kalau di pabrik keramik bisa mencapai 42 persen serapan gasnya. Jadi buat kami, harga gas bukan suatu hal yang mempengaruhi secara signifikan bagi produksi," terangnya.
Menurut Hasan, Indonesia masih mempunyai komponen lain yang lebih murah jika dibandingkan dengan negara lainnya di Asia. Hasan mencontohkan, tenaga kerja kita lebih murah dari mereka, bahan baku kita punya.
"Jadi jika dibandingkan dengan negara lainnya di Asia, production cost di Indonesia masih lebih murah," tambah Hasan.
Terkait banjirnya produk impor di Indonesia, Hasan menegaskan, barang sanitary impor di Indonesia saat ini memang banyak . "Namun, kita bisa sasar marketnya para importir. Walaupun pertumbuhannya tidak semakin tinggi, kita berharap bisa menggantikan produk mereka. Dan kami optimis untuk kedepannya," imbuhnya.
Hasan menyadari bahwa market sanitary di Indonesia masih sangat kecil. Untuk itu, kami berharap dukungan pemerintah agar market sanitary di Indonesia bisa lebih luas lagi.
"Market kita masih sangat kecil. Namun kita masih percaya dengan kapasitas produksi kami pasti terjual semua," katanya.
Terkait ekspansi, Hasan menegaskan, kedepan, perusahaan ada rencana ekspansi ketiga. "Kita sudah siapkan lahannya di daerah Tangerang. Bagaimanapun juga kita harus step by step. Kita juga melihat ekspansi kedua ini apakah sudah cukup berhasil atau tidak. Kalau sudah cukup berhasil kenapa tidak kita lanjutkan ekspansi yang ketiga," pungkasnya.